Rupanya, Masthuro tergolong santri kelana. Tak cukup belajar hanya di satu pesantren. Pada 1911, ia sekolah kelas II di Rambay Cisaat hingga memperoleh ijazah pada 1914. Di saat bersamaan, ia juga mengaji kitab kuning di Pesantren Tipar Kulon yang diasuh KH Kartobi. Setelah itu, ia kembali mengaji kitab kuning di Pesantren Babakan Kaum Cicurug, Sukabumi dan berguru kepada KH Hasan Basri. Di saat bersamaan, Masthuro juga mengaji kepada KH Muhammad Kurdi di Pesantren Karang Sirna Cicurug. Dengan jarak tidak berjauhan, saat itu Masthuro nyantri di dua tempat.
Kemudian, pada 1915, Masthuro mengaji kitab-kitab di pesantren Paledang Cimahi, Cibadak Sukabumi, yang diasuh KH Ghazali. Tak lama, ia kemudian berpindah ke beberapa pesantren lain di Sukabumi, seperti Pesantren Sukamantri Cisaat yang diasuh KH Muhammad Sidiq, dan Pesantren Pintuhek yang dipimpin KH Munajat.


Semula Pondok Tipar
