Seabad NU: Meneguhkan Peradaban Islam Nusantara yang Menginspirasi Dunia

Memasuki abad ke-14 M, Islam mulai menemukan momentumnya hadir di bumi Nusantara. Adalah para Walisongo, sosok ulama (dewan dakwah) yang melakukan syiar Islam secara masif. Mereka mencermati bahwa masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, sangat menjunjung tinggi tradisi dan adat leluhur. Karena itu, para Walisongo mengubah gaya dakwah dengan menerapkan pendekatan budaya. Semua tradisi dan kearifan lokal yang eksis dalam masyarakat itu kemudian disisipi nilai-nilai Islam.

Sunan Kalijaga, misalnya, menjadikan kesenian wayang sebagai instrumen dakwah. Ia mengakulturasi dakwah dengan seni budaya supaya Islam dapat diterima oleh masyarakat. Saat menjadi dalang, ia menyisipkan dakwah Islamiyah. Lakon yang dimainkan tidak lagi bertema Hindu, tapi mengangkat kisah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu (Pandawa Lima). Dalam tafsirannya, Dewa Ruci sebagai Nabi Khidir, Jimat Kalimasada dimaknai kalimat Syahadat, Pandawa Lima adalah rukun Islam. Sunan Kalijaga bahkan mengganti puja-puji dalam sesaji dengan doa dan bacaan dari kitab suci Al-Qur’an.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berkat kepiawaian Walisongo memodifikasi model dakwah, yakni sangat humanis, arif, inklusif, serta akulturatif, darinya memancar aura positif. Dakwah tersebut sukses diterima, menarik simpati dan hati masyarakat. Timbul dalam benak masyarakat rasa kecocokan (sense of compability) dan merasa nyaman terhadap ajaran Islam. Sejak itulah, titik kesuksesan Islam mulai merebak dan dipeluk masyarakat luas. Islam pun bertumbuh menjadi agama arus utama (baca: mayoritas). Ketenangan serta kedamaian menaungi dalam segala aktivitasnya.

Hingga tiba di abad ke-19, muncul kelompok pembuat “gaduh”, yakni Wahabisme. Ia mengglorifikasi gerakan purifikasi sebagai antitesis dakwah kultural. Tepat di titik inilah, jam’iyah NU hadir menjadi kemudi penjaga sekaligus penerus model dakwah dan penanaman nilai-nilai ajaran Islam Walisongo. NU secara berkala terus menghidupsuburkan kembali, meminjam istilah Gus Dur, gerakan pribumisasi Islam. Kita bisa melacak dari eksistensinya tradisi nyadran, tahlilan, mauludan, ngupati, ruwatan, mitoni, slametan, dan tradisi lainnya. Bahwa itu semua, apa yang ditradisikan NU mengadopsi ajaran ulama walisongo muncul ke publik, disebut sebagai wajah “Islam (di) Nusantara”.

Islam Nusantara sejatinya Islam yang khas ala Indonesia. Ia merupakan hasil dialektika, interaksi, dan kontekstualisasi antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat. Islam Nusantara bukanlah menerapkan prosesi sinkretisme. Justru, Islam datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya secara bertahap. Jejak-jejak tersebut menandakan, karakter Islam Nusantara –dari dulu hingga kini– terbingkai sangat ramah, luwes, toleran, nirkekerasan, dan penuh keharmonisan. Islam Nusantara menghasilkan suatu tatanan peradaban beradab penuh kemaslahatan.

Harapan Baru Dunia

Tinggalkan Balasan