Bahwa tidak dapat dimungkiri, fakta empirik peradaban di belahan dunia sedang bergejolak begitu dahsyat. Di sana terjadi “siklus kegersangan”. Terdapat kenihilan platform yang mampu memayungi semua entitas, sehingga menjadikan problem kemanusiaan universal tersebut tak kunjung berkesudahan. Tepat di titik ini, setelah kesuksesan merawat nasional, sudah saatnya Islam Nusantara mengepakkan sayap berkontribusi untuk mengurai sengkarut marut dan menjadi jembatan peradaban global.
Hal ini semakin menemukan relevansinya berlapis tatkala banyak cendikiawan lewat kajian akademis menyimpulkan bahwa referensi peradaban global akan bergeser ke peradaban Islam Nusantara. Prof Fazlur Rahman, pencetus teori Double Movement, mengatakan, Islam Nusantara berpotensi besar akan berdiri terdepan dalam memajukan sekaligus mendamaikan peradaban global.

Sementara itu, cendikiawan lainnya, Prof James B Hoesterey dan Dr Chiara Formichi, juga memiliki pandangan yang sama. Dari pengalaman penelitian yang mereka lakukan di Indonesia, mereka berkesimpulan, Islam Nusantara pasti akan menjadi role model peradaban baru dunia muslim.
Guru Besar Sejarah Islam, almarhum Prof Azyumardi Azra, juga pernah melakukan penelaahan. Ia memperkuat optimisme itu dengan menjelaskan, hingga kini hanya peradaban Islam Nusantara yang terbilang berhasil membuat peradaban lebih damai, penuh ketenangan, dan harmonis. Harapan seperti ini kian meningkat jika kita menilik peradaban Islam Arab, Asia Selatan, Asia Barat, dan Afrika diselimuti konflik dan anarkisme. Bahkan, peradaban Barat, menurut Sir Azra, juga tengah mengalami kemrosotan.
Jika dicermati, setidaknya pasca muktamar ke-33, NU gencar mengkampanyekan “Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Banyak pihak eksternal (manca negara) melirik model keberagamaan Islam Nusantara. Mereka tertarik akan ekspresi keberislamannya yang toleran, penuh kesantunan, menghargai kemanusiaan, dan khas berbudaya. Sebab, sangat sulit menemukan hal yang serupa, suatu negara masih merawat dan melestarikan sikap indigenous tersebut.
Kantor PBNU akhirnya jadi “kelas akselerasi” pendalaman Islam Nusantara. Tercatat tidak kurang dari puluhan duta besar dan ulama penjuru dunia –Barat hingga Timur– mengunjungi kantor PBNU. Kedatangan tersebut bermotif pada hilir yang sama, yakni menanyakan khazanah Islam Nusantara, ketertarikan mengimpor manhaj Islam Nusantara ke negaranya, dan menjalin sinergitas kerja sama berkelanjutan. Semua hal yang dilakukan sebagai pijakan menciptakan masyarakat unggul, adaptif, inklusif, nirkekerasan, dan berkeadilan.
