Mak Irah Ingin Pulang

Mak Irah Ingin Pulang

Mak Irah mengibas-ngibaskan kalender bekas agar udara dapat mengangini wajah dan lehernya. Keringat mengalir di sekujur tubuh. Tangan Mak Irah satu lagi menarik ulur kerah bajunya yang tipis dan panas agar udara dapat lebih leluasa masuk.

Mak Irah memejam mata barang sejenak. Ia menarik napas pelan-pelan, melegakan dada ringkihnya yang kian hari makin menyempit. Jeritan anak-anak yang melintasi kontrakan anak lanangnya tiba-tiba mengacaukan pikiran Mak Irah. Ada yang berteriak, menangis, tertawa terpingkal-pingkal, ditambah suara kemerosok dari mesin bajaj yang lewat di depannya membuat kuping Mak Irah kepanasan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mak tidak mau pindah, Gus.” Kalimat itu pernah terucap dari bibir Mak Irah. Agus, anak lanang Mak Irah satu-satunya, mengusap bahu maknya. Ia pandangi wajah maknya yang sudah rimpuh sambil bersimpuh.

“Agus hanya ingin berbakti sama Mak,” ucap Agus sepekan lalu. Suaranya sedikit memarau. Mak Irah tidak kuasa menahan bulir-bulir bening menjelanak dari sudut matanya. Sejak kepulangannya ke kampung halaman, Agus terus-menerus membujuk maknya yang memilih tinggal sendiri sejak bapaknya meninggal lantaran penyakit strok. Agus sendiri tidak mengerti, mengapa maknya begitu kukuh memilih tinggal di desa terpencil itu.

“Mak temani Surti di rumah sekaligus momong cucunya Mak,” lanjut Agus.

Mak Irah beralih pandang menatap perut Surti, menantunya yang telah hamil enam bulan. Tentu ia amat ingin menggendong cucu pertamanya yang sudah dinanti selama dua tahun sejak awal pernikahan anak lanangnya. Maka, Mak Irah pun melunak hatinya; menerima tawaran untuk tinggal di Jakarta bersama anak dan menantunya.

Mak Irah sering mendengar cerita dari saudara dan tetangganya yang pernah merantau ke Jakarta. Di Jakarta penuh kemegahan dan kemewahan. Mau apa-apa pasti ada. Semua serba canggih dan menawarkan berbagai kenikmatan.

Dari hati Mak Irah yang paling dalam, ia dari dulu ingin sekali ke Jakarta menengok anak lanangnya. Setamat SMP, Agus dibawa pakdenya bekerja di Jakarta. Paling cepat Agus pulang tiga tahun sekali menengok mak dan bapaknya. Namun, Mak Irah dan suami terbentur ongkos pulang-pergi yang terbilang cukup mahal bagi orang-orang di bawah garis kemiskinan seperti mereka.

Setibanya Mak Irah di Terminal Pulogadung, ia tidak menunjukkan kesan apapun. Terlebih ketika anak lanangnya memesan satu bajaj untuk bertiga, Mak Irah mulai menampakkan gelagat tidak nyaman. Kota yang kumuh, bacin, dan panas, begitu kira-kira perasaan yang menggerayangi benak Mak Irah setibanya di kontrakan anak lanangnya.

Semua benar-benar di luar otak Mak Irah. Dalam benaknya, anak lanangnya membawa Surti tinggal di rumah yang paling tidak bertingkat dua, bukan di rumah kontrakan kecil sepengap itu. Mak Irah memang tidak pernah bertanya apa pekerjaan anak lanangnya. Pun, Agus tidak pernah bercerita apa-apa, selain uang lima ratus ribu yang tiap bulan rutin dikirimkan kepada maknya.

Keterkejutan Mak Irah kian bertambah saat mengetahui di belakang rumah kontrakan anak lanangnya berupa sungai yang airnya hitam kental dan menguarkan bau busuk. Di sekeliling sungai berderet-deret rumah kontrakan sejenis yang jika musim hujan tiba menjadi langganan banjir.

***

Mak Irah bangkit pelan-pelan dari duduknya. Kepalanya pusing mendengar kegaduhan di luar. Ia mendorong tuas pintu yang kebetulan tidak dikunci oleh Surti untuk memudahkan mertuanya keluar masuk. Surti sendiri tidak ada di rumah. Ia bekerja sebagai buruh cuci panggilan. Penghasilannya tidak menentu. Namun, setidaknya bisa menambah tabungan untuk biaya persalinan nanti.

Mak Irah merebahkan diri di sofa ruang tamu. Bokongnya langsung panas menempel karpet sofa, meski sudah terhalang jarik kemban. Wajar saja, sofa anak lanangnya berharga murah yang hanya diisi potongan kain perca.

Belum genap satu minggu Mak Irah tinggal di rumah kontrakan anak lanangnya, ia sudah tidak betah. Setiap malam dirinya susah tidur. Berbeda dengan udara di desa, Mak Irah belum bisa beradaptasi dengan udara Jakarta. Belum lagi kawanan nyamuk membabi buta menggigit kulit Mak Irah yang rupanya lebih ganas daripada nyamuk-nyamuk di kebunnya. Mak Irah menggeram. Bibirnya tidak henti-hentinya menyumpah-serapah binatang laknat taktahu diri itu.

Tinggalkan Balasan