Harus diakui, momen yang melibatkan Ustaz Basalamah itu bukan fenomena tunggal, bukan satu-satunya. Dalam beberapa tahun terakhir, masih sering kita dengar di sejumlah daerah, di beberapa sekolah, penghormatan bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya menjadi perkara yang selalu dihubung-hubungkan dengan keimanan, dengan kesyirikan. Padahal, menganggap hormat bendera dan juga menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai perbuatan syirik sesungguhnya cacat logika. Sebab, jika hormat bendera dianggap sama dengan menyekutukan Tuhan, itu berarti Tuhan disederajatkan dengan bendera. Jika menyanyikan lagu Indonesia Raya dianggap sebagai pememujaan kepada selain Tuhan, dan itu syirik, itu berarti juga merendahkan derajat Tuhan.
Rasanya kita perlu membaca ulang maha karya sarjana muslim terkemuka abad ke-14 Ibnu Khaldun, Muqaddimah. Dalam studi sosiologisnya, penggunaan umbul-umbul, bendera, musik mars pada semua kerajaan atau negara, termasuk negara-negara Islam ketika itu, disebutnya semata-mata untuk menggelorakan daya juang di zaman perang atau semangat membela tanah air. Tak ada hubungannya dengan penyekutuan akan Tuhan. Negeri-negeri muslim dan yang nonmuslim pun menggunakan cara-cara yang sama, sampai kini.

Lalu saya teringat semboyan Winston Churcill, Perdana Mentri Inggris semasa Perang Dunia II, yang begitu gigih membela negaranya: Right or wrong is my country! (Benar atau salah ini negaraku!). Semboyan itu akhirnya mampu memupuk nasionalisme tak hanya di tanah Inggris, tapi juga menjalar ke banyak negeri lain. Banyak nasionalis dan pejuang kemerdekaan di berbagai negara mengutip semboyan Churcill itu, tak lain untuk mengobarkan semangat juang dan nasionalisme.
Negeri kita memang tak sempurna, dan tak akan pernah sempurna. Tapi apa salahnya kita tetap mencintainya? Bukankah mencintai Tanah Air adalah bagian dari iman?
Itulah yang akan saya jawabkan seandainya saya Ustaz Basalamah. Tapi sayangnya saya bukan ustaz…

Hubbul wathan minal iman, ungkapan KH Hasyim Asy’ari ini saking populernya sampai2 orang Arab pun mengira itu hadis Rasulullah saw.