Sayangnya saya bukan Ustaz Basalamah. Seandainya saya Ustaz Basalamah, dan jika benar momennya seperti itu adanya, maka saya akan menjadikannya momentum untuk membangun kesadaran kebangsaan. Bahwa membela dan mencintai Tanah Air adalah bagian dari iman. Ini bisa berarti jika sebaliknya yang terjadi, ada bagian yang hilang dari keimanan kita.
Rasanya tak ada orang berani meragukan keimanan, ketakwaan, dan kealiman Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari. Toh, KH Hasyim Asy’ari yang justru mengobarkan semangat juang untuk mencintai dan membela Tanah Air melalui resolusi jihad. Pesan moralnya sangat jelas: bahwa perang mempertahankan Tanah Air adalah jihad fisabilillah. Yang meninggal dalam perang kemerdekaan mempertahankan Tanah Air itu adalah syahid, meninggal di jalan Tuhan dalam kondisi mukmin dan muslim.

Maka, menjadi hal yang absurd, sangat sulit dipahami, jika setelah 76 tahun Indonesia merdeka, masih ada orang-orang yang beranggapan bahwa “sekadar” menghormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan dianggap bisa mengotori iman, menjadikannya musyrik. Seakan-akan beragama dan bernegara bagaikan air dan minyak. Seakan-akan tak beragama seseorang jika sekaligus ia bernegara dan berbangsa. Seakan-akan beragama itu harus stateless.
Bayangkanlah hari-hari ini jika setiap muslim harus stateless. Tanpa menjadi warga negara suatu negara, Anda tak akan bisa berangkat ke tanah suci untuk berhaji. Tiap saat Anda tak bisa melancong ke Tanah Arab untuk berumroh. Kita lupa bahwa menjadi warga negara dari suatu negara adalah given, keniscayaan, seperti ketika kita terlahir sebagai orang Jawa, orang Sunda, orang Madura, orang Batak, orang Bali, dan sebagainya.
Maka, ketika terlahir sebagai orang Indonesia, menjadi warga negara Indonesia, dan hidup di Indonesia pula, apakah kita harus menyetip keindonesiaan kita karena kita muslim?

Hubbul wathan minal iman, ungkapan KH Hasyim Asy’ari ini saking populernya sampai2 orang Arab pun mengira itu hadis Rasulullah saw.