Tapi konsolidasi itu tak mampu mengangkat kembali elan vital dan dinamisme intelektual dunia Islam. Sementara, di saat yang sama, negara-negara Eropa Barat mulai mengalami kemajuan intelektual dan ilmu pengetahuan yang signifikan. Dengan keunggulannya itulah, Barat kemudian menguasai dunia Islam.
Berdasarkan temuannya tersebut, Kuru akhirnya memberikan rekomendasi, jika ingin bangkit kembali, mengejar ketertinggalan, dunia Islam harus membangun sistem yang kompetitif dan meritokratis. Mereformasi struktur sosioekonomi dan politiknya, untuk membuka pintu kembali bagi hadirnya kaum intelektual yang kreatif dan para pelaku ekonomi yang independen. Harus dibangun sistem kelembagaan yang menjamin kebebasan berpikir bagi kaum intelektual atau sarjana Muslim.

Sayangnya, buku setebal 486 halaman ini tidak atau belum memasukkan Indonesia ke dalam studinya. Namun, dalam pengantarnya untuk edisi Indonesia, Kuru yang merupakan guru besar ilmu politik di San Diego University ini memberi catatan khusus untuk kasus Inddonesia. Lantaran rentang waktu antara Islamisasi di Nusantara dan kehadiran kolonialisme sangat pendek, maka belum sempat terbangun model relasi ulama-penguasa/agama-negara seperti halnya di kawasaan Timur Tengah atau Afrika.
Ia juga memberi catatan, sebelum kolonialisme masuk, Islamisasi di Nusantara berjalan seiring dengan praktik kearifan lokal. Sementara, pascakolonialisme, referensi yang masuk adalah model Islam dari Timur Tengah. Karena itu, Kuru tertarik untuk membuat studi lanjutan untuk kasus-kasus Islamisasi di Indonesia dan negara-negara Asia Tengara.
Data Buku:
Judul : Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan
Penulis : Ahmet T Kuru
Penerbit : kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Cetakan : Desember 2020.
Isi : 486 Halaman.
