Meskipun masih ada kekurangan dan ketaksempurnaan, pertunjukan Monolog “Negeri Sarung” itu sungguh terasa wah. Mewah. Bahkan terlalu mewah untuk ukuran jejaring duniasantri. Banyak yang geleng-geleng kepala, berdecak kagum, betapa jejaring duniasantri yang baru seumur jagung bisa menyelenggarakan acara sebergema itu, semenarik itu, seunik itu. Dan memperoleh liputan media yang begitu luas.
Hingga tiba acara potong tumpeng, nyaris tak ada pengunjung yang beranjak dari kursi selama tiga jam. Bahkan, seorang Rachmad Gobel pun harus “menyesuaikan” jadwalnya. Semula, Wakil Ketua DPR RI itu dijadwalkan akan langsung meninggalkan tempat usai memberikan pidato kebudayaan. Sebab, ia harus terbang keluar kota untuk kegiatan yang sudah diagendakan cukup lama. Nyatanya, bersama Ibu Hj Sinta Nuriyah Wahid, Rachmad Gobel justru termasuk tokoh yang paling akhir meninggalkan lokasi pertunjukan, setelah turut merubung tumpeng. Itu pun setelah meninggalkan catatan “harus ada lagi yang lebih besar” dan ia berjanji akan datang lagi ke acara duniasantri.

Lalu Lintas Ide

Saya, bagian terkecil dari penyelenggaraan acara itu, begitu terharu saat melepas tokoh-tokoh dan ratusan pengunjung meninggalkan lokasi pertunjukan. Senyatanya, baru pada detik-detik akhir kami menyadari, bahwa acara yang kami gagas itu boleh dibilang tergolong besar. Spektakuler. Karena, senyatanya, semua bermula dari dan disulam oleh obrolan-obrolan kecil.
Sekitar kurang dari tiga bulan sebelumnya, pengurus jejaring duniasantri mengadakan rapat kerja. Salah satu pokok bahasannya adalah soal merayakan ulang tahun (ultah) yang ketiga. Jika ultah pertama ditandai dengan penerbitan buku, ultah kedua hanya tumpengan karena dalam situasi pandemi, maka ultah ketiga harus ditandai dengan sesuatu yang berbeda lagi. Tapi, seperti apa “sesuatu” itu masih belum terbentuk gambarannya.
Suatu hari, saya dan Daniel K sedang makan siang bersama sejumlah kawan. Sehabis makan siang, saya diajak mampir ke sebuah galeri seni rupa di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. “Sudahlah, kita ngopi-ngopi di sana saja. Pasti cocok nanti,” ajak Koh Kumala Wijaya, salah satu teman makan siang kami.
Benar saja. Sebuah rumah di bilangan Jatinegara itu memang dijadikan geleri seni rupa. Di sanalah saya berkenalan dengan si empunya galeri, Kaisar Nuno. Pelukis impresionis ini banyak memajang karyanya di situ, dan sebagian besar subjeknya adalah tokoh-tokoh nasional. Ada lukisan KH Hasyim Asya’ari dan Mbah Moen, misalnya.
Tentu saja kami terlibat obrolan yang intens dengan Kaisar Nuno. Tentu saja salah satu yang saya “pamerkan” dalam obrolan itu adalah duniasantri, lengkap dengan berbagai agendanya, dengan berbagai impiannya. Seperti kebanyakan penulis/kontributor duniasantri, Kaisar Nuno juga merasa menemukan dunianya.
“Kita harus berkolaborasi, harus berjejaring, berbuat sesuatu untuk negeri kita,” kata Kaisar Nuno dengan wajah sumringah. Hingga saat kami berpamitan, belum ada gambaran seperti apa kolaborasi dan jejaring yang saya tangkap dari kalimat Nuno.
Dua atau tiga hari kemudian, Daniel K mengenalkan saya pada seseorang saat makan malam di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Seseorang itu adalah Yayat Nur Hidayat. Yayat adalah orang yang lama berkecimpung di dunia kreatif dan marketing komunikasi. Setelah menceritakan tentang dirinya dan perjalanan hidupnya, di sela seruputan kopi, Yayat Nur Hidayat ingin mendengarkan langsung dari mulut saya apa itu duniasantri.
Seperti kepada Nuno, kepada Yayat saya juga menceritakan tentang duniasantri, lengkap dengan berbagai agendanya, dengan berbagai impiannya. Mendengar cerita itu, Yayat merasa dirinya seperti terlempar ke masa lampau yang jauh, ke masa-masa saat dirinya menjadi bocah santri langgaran. “Terus terang, sudah lama saya merindukan dunia seperti itu. Dunia penuh kedamaian,” kata Yayat yang juga ingin menjalin kebersamaan dengan duniasantri.
Tapi hingga kami berpisah malam itu, juga belum ada gambaran kebersamaan seperti apa yang dapat kami bangun.
Tak lama kemudian, ketika pengurus jejaring duniasantri kembali mengadakan rapat, saya mengundang Kaisar Nuno dan Yayat Nur Hidayat untuk turut serta. Meskipun belum ada gambaran utuhnya, namun keduanya bersepakat untuk terlibat dalam program-program kegiatan jejaring duniasantri, terutama untuk perayaan ultah yang ketiga ini.
Sejak itu, kami berempat sering menyisih ke galeri Nuno, dan berpura-pura menjadi “tim kreatif” untuk perayaan ultah yang ketiga ini. Dalam diskusi kecil di galeri Nuno, Yayat menyemburkan unek-uneknya. Menurut Yayat, jika perayaan ultah hanya diisi acara seremonial dan potong tumpeng, akan booring dan tak punya efek apa-apa. “Harus ada sesuatu, mungkin sebuah pertunjukan yang unik,” katanya.

Entah mengapa, membaca naskah ini membuat saya merinding sekaligus terharu. Ingin rasanya saya turut serta, berhadir-datang menjadi bagian dari kegiatan itu. Tetapi, keadaan sangat tidak memungkinkan. Berbagai halangan dan rintangan menjadi penghadang untuk sekadar memberikan applus yang meriah, membahana.
Terlintas dalam benak saya, bagaimana Sdr Mukhlisin begitu berpontang sekaligus berpanting dalam menyiapkan acara. Tentu, kawan-kawan lainnya juga pasti bersibuk-sibuk dalam rencana “pesta” yang begitu meriah, mewah, dan wah. Persiapan untuk geleri tidak dapat dipandang sebelah mata. Karena mengumpulkan foto-foto ulama NU dan atau sarung yang memiliki memorilia kepesantrenan juga bukan perkara mudah. Tindak “jalan santri” Ngatawi Al-Zastrow patut diacungi jempol, sebagai bentuk hormat meskipun sebenarnya tidaklah cukup.
Hal lain lagi, dan lagi-lagi membuat saya merinding, adalah peran serta Kiai saya dari Annuqayah, pengasuh Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, Kiai Muhammad Shalahuddin (Ra Mamak) yang ternyata sebagai penulis naskah Monolog Negeri Sarung. Subhanallah, tuntas sudah puncak kebahagiaan saya bahwa ultah Dunia Santri yang ke-3 ini memuat berbagai marwah dan martabat yang tidak dapat dinilai dengan materi. Ada banyak nilai-nilai luhur yang kemudian mengalir di relung setiap santri, khususnya saya yang telah menjadi alumni santri.
Monolog Negeri Sarung adalah dari santri oleh santri dan untuk semua. Semoga di waktu yang akan datang akan kembali hadir kegiatan spektakuler, San saya ada di sana sebagai bagian dari catatan sejarah emas yang tidak terbantahkan. Aamiin ya Robb!
Wow, Mukhlishin, Ra Mamak, dan semua oknum yang terlibat dalam kesuksesan acara Monolog Negeri Sarung saya pikir patut diacungi jempol.