Semula, pertunjukan ini akan digelar pada 20 Agustus. Namun, dengan pertimbangan waktu untuk persiapan terlalu mepet, saya minta dimundurkan ke tanggal 27 Agustus —dan belakangan saya baru tahu itu merupakan tanggal ulang tahunnya Kang Zastrouw. Semua, dengan pede-nya, setuju dengan pengunduran tanggal itu.
Rupanya, jauh sebelumnya, grup musik Ki Ageng Ganjur telah berkontrak dengan pihak lain untuk berpentas pada tanggal yang sama. Kami langsung “ciut” karena akan kehilangan satu elemen penting dalam pertunjukan itu.

Lagi-lagi, Kang Zastrouw harus menempuh “jalan santri”, berkomunikasi langsung dengan pengontrak. Alhamdulillah, pihak yang lebih dulu mengontrak Ki Ageng Ganjur “mengalah” dengan menggeser waktu. Dengan catatan, Ki Ageng Ganjur yang bermarkas di Yogyakarta ini baru bisa tiba pada dini hari di hari pertunjukan, sehingga tak bisa mengikuti gladi resik. Dan harus bergladi sendiri beberapa jam sebelum acara dimulai, menyesuaikan dengan skenario pertunjukan.
Sementara itu, elemen puisi juga nyaris hilang karena hingga H-2 puisinya belum ada. Begitu pun dengan pembaca puisinya. Sejak awal, saya yang paling ngotot agar yang membaca puisi adalah santri, dan puisinya adalah puisi-puisi yang pernah dimuat di duniasantri.co. Maka, tanggung jawab untuk menyiapkannya ada di pundak saya.
Hingga saat-saat akhir itu, setelah membaca-baca kembali puisi-puisi yang termuat di duniasantri.co, belum ada puisi yang cocok, yang bertema sarung dan sesuai dengan ide cerita pertunjukan. Kalau sekadar sajak bertema sarung banyak, misal “Di Bawah Kibaran Sarung” karya penyair kondang Joko Pinurbo. Tapi itu bukan puisi yang ditulis oleh santri untuk duniasantri.co.
Ini soal yang mencemaskan buat saya. Sudah dua kali gladi, tapi elemen puisi belum bisa masuk. Kang Zastrouw dan Yaya Nur Hidayat bolak-balik nagih: mana pembaca puisinya? Dan saya haras berpura-pura tidak cemas. “Ada. Pasti siap nanti.”
Ndilalah, di tengah kecemasan itu, ada notif submit naskah puisi ke duniasantri.co dari Khanafi, kontributor duniasantri.co dari Yogyakarta. Puisi berjudul “Percakapan Sarung dan Jilbab” itu langsung saya bacakan di depan sejumlah teman. “Cocok,” serentak mereka berkomentar. Detik itu juga, puisi itu dirilis di duniasantri.co.
Tapi itu belum cukup. Sebab, dari tiga judul puisi yang dikirim Khanafi, baru satu yang dianggap cocok untuk menjadi bagian dari pertunjukan. Praktis, dua hari menjelang pertunjukan, baru ada satu puisi dan juga belum ada pembacanya. Ndilalah lagi, di H-1, ada submit puisi dari Fathorrozi, kontributor duniasantri.co dari Jember. Satu dari tiga puisinya dianggap cocok, judulnya “Munajat Debu untuk Negeri Sarung”. Detik itu juga puisi ini dirilis.
Sudah ada dua puisi, tapi masih menyisakan satu persoalan: siapa yang pas membacakannya? Malam menjelang H-1, saya sedang duduk-duduk di bawah pohon yang dibalut sarung itu bersama Daniel. “Bro, si itu bisa kali baca puisi,” kata Daniel yang bisa membaca kegusaran saya.
Saya langsung bergegas menghampiri orang yang dimaksud Daniel. Dia adalah seorang santri, kuliah di Universitas Indonesia, yang sekira dua pekan sebelumnya mengajukan surat lamaran untuk magang di duniasantri. Beberapa hari sebelumnya, saya mengundangnya untuk membantu-bantu di kepanitiaan. Dia mengaku suka membaca puisi, yang direkam di HP dan sering “dipamer-pamerkan” pada teman-temannya. Saya meminjam HP-nya untuk melihat dan mendengar gayanya membaca puisi. Menyendiri.
Menurut saya ok, tapi saya masih memerlukan second opinion. Filenya saya kirim ke Bang Pi, alias Dr Alfian Siagian yang memang orang teater, untuk dikurasi. “Perlu sentuhan,” responsnya.
“Ya dilatih dong,” sergah saya.
Malam sambil menunggu jam gladi resik, saya melihat Bang Pi melatihnya, berkali-kali. Setelahnya ia bergabung dengan pengisi panggung untuk mengikuti gladi resik. Kecemasan saya pergi. Malam menjelang hari H optimisme mulai merebak. Seluruh elemen pertunjukan sudah menyatu menjadi satu kesatuan cerita. Kepingan terakhir yang membaca puisi itu adalah Lulu Ashafa.
Dan, seperti kita tahu, Sabtu 27 Agustus 2022 itu menjadi hari istimewa bagi jejaring duniasantri. Menandai hari jadinya yang ketiga, jejaring duniasantri mampu menghadirkan acara dan pertunjukan yang wah, mewah, keren, dan unik dengan gemuruh pesan yang ditangkap penuh keharuan. Juga memperoleh liputan media yang begitu luas.
Setelah layar ditutup, banyak kalangan mengusulkan agar pertunjukan ini diusung dan dipanggungkan keliling Indonesia. Itu memang sesuatu hal yang mungkin. Tapi, bagi saya, fondasi utama jejaring duniasantri adalah gerakan literasi. Literasi orang-orang pesantren. Namun, apa pun itu, penutupan layar pertunjukan itu sekaligus akan menjadi pembuka jalan bagi jejaring duniasantri untuk memperluas jejaring gerakannya. Awal dari banyak cerita yang akan ditulis, bersama ribuan santri yang begitu tekun berliterasi.

Entah mengapa, membaca naskah ini membuat saya merinding sekaligus terharu. Ingin rasanya saya turut serta, berhadir-datang menjadi bagian dari kegiatan itu. Tetapi, keadaan sangat tidak memungkinkan. Berbagai halangan dan rintangan menjadi penghadang untuk sekadar memberikan applus yang meriah, membahana.
Terlintas dalam benak saya, bagaimana Sdr Mukhlisin begitu berpontang sekaligus berpanting dalam menyiapkan acara. Tentu, kawan-kawan lainnya juga pasti bersibuk-sibuk dalam rencana “pesta” yang begitu meriah, mewah, dan wah. Persiapan untuk geleri tidak dapat dipandang sebelah mata. Karena mengumpulkan foto-foto ulama NU dan atau sarung yang memiliki memorilia kepesantrenan juga bukan perkara mudah. Tindak “jalan santri” Ngatawi Al-Zastrow patut diacungi jempol, sebagai bentuk hormat meskipun sebenarnya tidaklah cukup.
Hal lain lagi, dan lagi-lagi membuat saya merinding, adalah peran serta Kiai saya dari Annuqayah, pengasuh Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, Kiai Muhammad Shalahuddin (Ra Mamak) yang ternyata sebagai penulis naskah Monolog Negeri Sarung. Subhanallah, tuntas sudah puncak kebahagiaan saya bahwa ultah Dunia Santri yang ke-3 ini memuat berbagai marwah dan martabat yang tidak dapat dinilai dengan materi. Ada banyak nilai-nilai luhur yang kemudian mengalir di relung setiap santri, khususnya saya yang telah menjadi alumni santri.
Monolog Negeri Sarung adalah dari santri oleh santri dan untuk semua. Semoga di waktu yang akan datang akan kembali hadir kegiatan spektakuler, San saya ada di sana sebagai bagian dari catatan sejarah emas yang tidak terbantahkan. Aamiin ya Robb!
Wow, Mukhlishin, Ra Mamak, dan semua oknum yang terlibat dalam kesuksesan acara Monolog Negeri Sarung saya pikir patut diacungi jempol.