Sebelum dan Setelah Monolog Itu…

Kami bersetuju soal itu, tapi apa? Dari Yayat muncul ide “monolog”. Tapi cerita tentang apa? “Pokoknya tentang sarung,” kata Nuno. Soalnya, di matanya, santri identik dengan sarung. Dan sarung merupakan produk budaya Nusantara.

Tapi apa yang hendak diceritakan tentang sarung ini dalam sebuah monolog? Yang menarik? Antara monolog dan sarung masih terjeda “kekosongan”. Harus ada kata yang menjadi penjelas, penyambung, dan punya daya tarik. Lalu lintas kata dan ide pun berhamburan begitu riuh, namun begitu lama dirasa belum ada yang cocok.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tetiba saya berteriak, “Negeri! Negeri sarung.” Yayat langsung berdiri, “Nice. Good. Cocok. Thank you. Kita akan bikin pertunjukan Monolog Negeri Sarung.” Yayat kemudian menuliskannya ke dalam papan dengan spidol. Di HP saya, foto papan tulis itu bertanggal 20 Juli 2022.

Tapi siapa yang akan bermonolog? Banyak aktor tenar yang biasa tampil dalam pertunjukan monolog. Contoh yang paling mudah adalah Butet Kartaredjasa atau Happy Salma. Tapi sedari mula yang kami cari adalah aktor yang berdarah santri. Maka ketemulah satu nama yang dirasa pas bener: Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu KH Abdurrahman Wahid.

Isyarat alam sepertinya Tuhan memberi rida. Esoknya, tanpa sengaja, Yayat bertemu dengan Inayah Wahid saat menghadiri pemutaran film dokumenter Pesantren yang diproduseri Lola Amalia. Tak buang kesempatan, rencana mengundang Inayah untuk bermonolog di “Negeri Sarung” pun disampaikannya. Dan Inayah mengangguk.

Gagasan menggelar pertunjukan Monolog “Negeri Sarung” itu pun dibawa ke rapat pengurus jejaring duniasantri pekan berikutnya. Tak sekadar monolog, pertunjukannya malah diperluas dengan menghadirkan grup musik Ki Ageng Ganjur dan painting live performance dari Kaisar Nusa. Ide-ide lanjutan terus bermunculan. Yayat menawarkan pameran seni instalasi rumah sarung dan sarung memorabilia. Nuno mengajukan pameran lukisan tokoh-tokoh pesantren, dan ia sanggup melukisnya dalam waktu singkat.

Tentu saja, bagi jejaring duniasantri, apa yang sedang digagas ini merupakan pekerjaan besar dan sebagai pengalaman pertama. Bukan cuma besar acaranya, tapi juga biayanya. Karena itu kami menggandeng dan bekerja sama dengan Makara Art Center Universitas Indonesia (MAC UI) dan kemudian membentuk kepanitiaan bersama. Bahkan, kami juga menggandeng tim show management yang profesional.

Dukungan Mengalir

Ketika konsep sudah matang dan tanggal serta tempat pertunjukan diputuskan, jejaring duniasantri segera mengabarkan rencana ini ke berbagai kalangan. Dukungan kemudian mengalir dari berbagai kalangan itu, baik dari pribadi-pribadi maupun institusi- institusi. Dari Kota Surabaya, misalnya, salah satu produsen sarung terbesar di Indonesia, PT Behaestex, mengirimkan 100 buah sarung ciamik yang kemudian dijadikan Rumah Sarung itu.

Juga, banyak institusi baik lembaga pemerintah maupun swasta memberikan dukungan berarti. Dari lembaga negara ada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dari swasta ada Maritus Lines, Kapal Api, dan Ultima II. Dukungan juga datang dari PT Kereta Api Indonesia.

Yang membanggakan adalah dukungan yang datang dari tokoh-tokoh dan para aktor yang menjadi bagian dari pertunjukan. Ibu Sinta Nuriyah, KH Said Aqil Siradj, Wakil Ketua DPR RI Rachmad Gobel, dan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud adalah tokoh-tokoh yang sejak awal memberikan dukungan dan bersedia hadir.

Sementara itu, para aktor mempersiapkan diri seoptimal mungkin agar mampu memberikan pertunjukan yang terbaik. Inayah Wahid dan Kang Zastrouw menyuguhkan monolog dan tawashow. Kemudian ada Muhammad Shalahuddin alias Ra Mamak dari Sumenep datang untuk menyiapkan naskah monolog untuk Inayah Wahid dan Abdullah Wong sebagai narator pertunjukan.

Yang mengharukan sekaligus membanggakan adalah ketika pameran sarung memorabilia akhirnya terwujud. Pameran sarung memorabilia ini memang dimaksudkan untuk mendukung pameran lukisan tokoh-tokoh pesantren. Tidak gampang, misalnya, untuk bisa meminjam sarungnya Mbah Moen atau Gus Dur atau tokoh-tokoh lainnya. Beruntung, Kang Zastrouw punya “jalan santri” yang bisa ditempuh. Akhirnya, sejak 22 hingga 27 Agustus 2022 itu, belasan sarung memorabilia para tokoh itu bisa dipamerkan bersama lukisannya.

Setelah Monolog

Pertunjukan Monolog “Negeri Sarung” ini sesungguhnya terbangun dari lima elemen yang menjadi satu kesatuan dalam sebuah cerita. Cerita tentang Negeri Sarung yang disuguhkan dalam beragam gaya. Kelimanya adalah monolog, tawashow, painting live performance, puisi, dan musik (Ki Ageng Ganjur). Nyaris saja dua elemen terakhir batal menjadi bagian dari pertunjukan.

2 Replies to “Sebelum dan Setelah Monolog Itu…”

  1. Entah mengapa, membaca naskah ini membuat saya merinding sekaligus terharu. Ingin rasanya saya turut serta, berhadir-datang menjadi bagian dari kegiatan itu. Tetapi, keadaan sangat tidak memungkinkan. Berbagai halangan dan rintangan menjadi penghadang untuk sekadar memberikan applus yang meriah, membahana.

    Terlintas dalam benak saya, bagaimana Sdr Mukhlisin begitu berpontang sekaligus berpanting dalam menyiapkan acara. Tentu, kawan-kawan lainnya juga pasti bersibuk-sibuk dalam rencana “pesta” yang begitu meriah, mewah, dan wah. Persiapan untuk geleri tidak dapat dipandang sebelah mata. Karena mengumpulkan foto-foto ulama NU dan atau sarung yang memiliki memorilia kepesantrenan juga bukan perkara mudah. Tindak “jalan santri” Ngatawi Al-Zastrow patut diacungi jempol, sebagai bentuk hormat meskipun sebenarnya tidaklah cukup.

    Hal lain lagi, dan lagi-lagi membuat saya merinding, adalah peran serta Kiai saya dari Annuqayah, pengasuh Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, Kiai Muhammad Shalahuddin (Ra Mamak) yang ternyata sebagai penulis naskah Monolog Negeri Sarung. Subhanallah, tuntas sudah puncak kebahagiaan saya bahwa ultah Dunia Santri yang ke-3 ini memuat berbagai marwah dan martabat yang tidak dapat dinilai dengan materi. Ada banyak nilai-nilai luhur yang kemudian mengalir di relung setiap santri, khususnya saya yang telah menjadi alumni santri.

    Monolog Negeri Sarung adalah dari santri oleh santri dan untuk semua. Semoga di waktu yang akan datang akan kembali hadir kegiatan spektakuler, San saya ada di sana sebagai bagian dari catatan sejarah emas yang tidak terbantahkan. Aamiin ya Robb!

Tinggalkan Balasan