SECANGKIR KOPI MENYAMBUT JULI

Dari jauh, si pramusaji menatap nanar pada pelanggannya yang gagal menemukan rindu di kedai ini. Betapa sepat kopinya tak sanggup menjernihkan tatap lelaki jangkung; si pelanggan yang tadi tersenyum sumbang.

Harusnya ini jadi awal hari yang baik untuk setiap orang. Dengan menggandeng rindu, tiap tatap akan dengan jernih melihat pantulan eksistensinya. Sayangnya, ternyata secangkir kopi di kedai itu kini gagal menjernihkan tatap salah seorang pelanggannya. Pramusaji kecewa, tapi barista tampak jauh lebih terluka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

III. Juli; Harapan

Doa-doa, semoga sanggup mengembalikan rindunya yang dirampas ambisi semu. Menyedihkan. Ia kehilangan kemanusiaannya. Tanpa sadar; ditukar dengan obsesinya yang tamak. Barangkali, sedang ia coba memanggil kembali rindu-rindunya. Tapi akan sukar; tatapnya sungguh pekat. Sekali lagi, semoga doa-doa sanggup menjernihkannya. Biarlah ia tabung dulu harapan-harapan itu. Suatu saat, semesta semoga berbaik hati mengembalikan kemanusiaan dan nuraninya.

Tinggalkan Balasan