Secangkir Kopi Terakhir Ayah, Novel yang Mengisahkan Sejarah

“Saya tidak terlalu melihat itu. Saya nulis saja. Tapi memang harus dicek yang benar-benar sejarah,” ujarnya.

Menurut Jajang, penulis fiksi sejarah tetap memiliki ruang untuk melakukan rekonstruksi dan imajinasi. Namun, imajinasi tersebut perlu berpijak pada peristiwa sejarah yang sebenarnya. Dengan cara itu, cerita dapat berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan konteks sejarah yang menjadi latarnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jajang juga membagikan mengenai proses penulisan. Ia menyarankan penulis pemula untuk tidak terlalu banyak berpikir sebelum mulai menulis. Kebiasaan tersebut, menurutnya, dapat dibangun dari hal-hal kecil.

“Kalau kalian mau menulis, ya tulis saja. Kita belajar dari yang kecil dulu menulis agar nanti bisa terbiasa,” katanya.

Ia menambahkan, penulis tidak harus memaksakan diri terus-menerus. Beristirahat sesekali diperbolehkan, tetapi pekerjaan yang sedang dikerjakan sebaiknya tidak ditinggalkan. Ketika mulai menemukan keasyikan dalam menulis, ide akan lebih mudah berkembang.

Dalam penulisan fiksi, Jajang juga menekankan pentingnya pemilihan diksi dan metafora untuk membangun emosi. Penulis perlu menghadirkan drama agar cerita tidak berjalan lurus dan mudah ditebak.

Tinggalkan Balasan