“Kita harus menghadirkan drama atau peristiwa, jangan lurus saja,” tuturnya.
Ia juga menyebut pentingnya plot twist untuk menghadirkan kejutan dan membuat pembaca ikut merasakan emosi tokoh. Menurutnya, penulis perlu berusaha menggugah pembaca agar tidak hanya memahami cerita, tetapi juga merasakan suasana yang dibangun di dalamnya.

Secangkir Kopi Terakhir Ayah mengisahkan seorang anggota parlemen Indo-Belanda yang datang ke Indonesia pada tahun 1991 untuk mencari ayah yang tidak pernah dikenalnya. Pencarian tersebut membawa ke Panebong, sebuah desa di pedalaman Banten, dan membuka berbagai rahasia masa lalu.
Novel ini juga menghadirkan kehidupan masyarakat Banten melalui tradisi kopi, kehidupan agraris, seni silat, serta berbagai mitos dan folklor lokal. Dengan demikian, sejarah dalam novel tidak hanya menjadi latar, tetapi menyatu dengan kehidupan tokoh dan masyarakat yang diceritakan.
Novel yang diterbitkan Sigma Publishing pada tahun 2026 ini merupakan novel pertama Jajang Jahroni dan direncanakan menjadi bagian pertama dari trilogi.
Melalui buku bedah tersebut, sejarah tidak hanya dibicarakan sebagai kumpulan peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai pengalaman manusia yang dapat dihidupkan kembali melalui sastra.
