Sedekah Padi dan Krisis Ekologi

Di kampung saya, sedekah padi biasanya dilakukan seminggu atau maksimal tiga hari sebelum hari panen padi tiba. Tidak tahu asal-usulnya dari mana, tapi mungkin sudah menjadi  bagian dari kearifan lokal di desa saya. Kebanyakan orang akan datang ke sawahnya (biasanya sore menjelang maghrib) untuk menaruh jajanan tersebut serta dibakarnya kemenyan. Mungkin itu semacam mitos yang dipercaya oleh masyarakat agar hasil panen menjadi berkah dan melimpah. Terlepas dari mitos ataupun tidak, hal tersebut merupakan kearifan lokal masyarakat dalam menghargai hasil bumi  yang Tuhan berikan.

Waktu merenggut segalanya, ketika zaman sudah semakin berkembang maju. Modernitas akhirnya pelan-pelan menimbun kearifan lokal yang ada di desa kami dan mungkin juga di banyak daerah. Saya sudah tak lagi melihat kakek-kakek yang mengendarai sepeda ontel membawa jajanan pasar ke sawah menjelang maghrib. Begitu juga saya tak melihat anak-anak yang berburu jajanan tersebut ke sawah. Mungkin mereka sudah tak mengenal kearifan lokal tersebut. Mereka lebih sibuk pada gawai yang di dalamnya terdapat banyak game online  yang mungkin bagi mereka lebih menyenangkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ada yang hilang dari sebuah zaman. Bukan hanya kearifan lokal sedekah padi, tapi juga kesadaran bahwa berharganya bumi. Hilangnya kesadaran itu bersamaan dengan modernitas yang semakin melaju kencang. Lantas lupa terhadap bumi tempat manusia hidup di dalamnya. Dunia seakan teralihkan ke dalam dunia maya. Tapi begitulah kenyataan hari ini, akhirnya dunia digemparkan oleh isu krisis ekologis yang semakin hari semakin memprihatinkan. Alih-alih menghargai bumi dengan cara sedekah padi atau sedekah bumi, manusia modern justru merusak bumi dengan tanpa merasa bersalah. Akhirnya terjadilah penimbunan sampah, eksploitasi alam secara berlebihan, polusi udara, krisis iklim dan sebagainya.

Mengatasi hal tersebut tentu saja tidak mudah. Artinya di tengah krisis ekologis, kita tetap dipaksa untuk mengikuti perkembangan zaman. Kita tak dapat menolak hal itu. Tapi yang menjadi persoalan adalah bagaimana kesadaran manusia  akan pentingnya menjaga bumi agar tetap sehat dan ramah lingkungan yang menjadi  tugas bersama. Karena teknologi telah menjadi alat utama dalam eksploitasi bumi secara berlebihan. Meskipun kesalahan tidak sepenuhnya terdapat dalam teknologi yang justru hal itu menandakan kemajuan berpikir manusia, tapi yang memprihatinkan kesadaran manusia yang ikut terenggut di dalamnya.

Tinggalkan Balasan