“Bagaimana bisa aku memasukinya?” jawabnya. “Lubang bambu itu sangat kecil sedangkan aku tinggi besar. Jariku saja sesak dalam buluh-buluh itu.”
Seh Bentong tak berkata apa-apa, tapi kemudian ia bertanya, “Perahu-perahumu sarat buku, tidakkah itu cukup untuk tak membuatmu ragu?”

Syarif Syam masih ragu. Diam beberapa sesaat. “Apakah tuan bisa masuk lebih dulu, nanti aku mengikuti persis dari belakang,” serunya.
Segera Seh Bentong menjulurkan tubuhnya dan memanggil-manggil Syarif Syam setelahnya sampai di dalam.
“Masuklah segera,” kata Seh Bentong. “Jangan berdiri saja di sana.”
“Tunggu sebentar!” teriak Syarif Syam dan mulai bergegas menyusul Seh Bentong. Ia kaget. Di dalam bumbung, segala terasa lapang, ada sebuah pintu besar. Lalu, ia masuk, terlihatlah masjid yang megah, dan orang di sana-sini. Ia masih tak percaya kenyataan itu. Keheranan yang panjang masih melingkupi, tatkala Seh Bentong menegurnya. “Sudah waktu salat, pukul dua belas siang.”
Syarif Syam dan orang-orang perlahan-lahan mengikuti Seh Bentong. Di masjid itu, orang merapatkan barisan, ada yang berdesak-desak: doa-doa dari mulut mereka. Lalu semuanya kembali tenang. Selesai wirid, Seh Bentong menghampirinya, wali yang pintar membuat gerabah itu ikut duduk. Ia menatap wajah Syarif Syam.
“Sekarang mana yang lebih besar, kamu dan buku-bukumu atau bumbung ini dengan semua isinya termasuk masjid, sungai, dan hutannya?” tanya Seh Bentong.
Air mata jatuh membasahi pipi Syarif Syam. “Aku mohon ampun untuk kesombonganku.”
Apabila kau berjalan di atas dosa
Dan jadi khawatir
Maka kau sebenarnya
Sudah mendapat ampunan Allah
Dan ingat-ingatlah…
Ilmumu sudah cukup untukmu
Apabila itu berguna
Kehinaan terjadi
