Sejarah Penulisan Tafsīr Qur’ān Berbahāsā Indonesia Kiai Suhaimi

Tafsīr al-Qur’ān Berbahāsā Indonesia pada awalnya direncanakan sebagai karya tafsir yang memuat penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an lengkap 30 juz. Namun sayang, dalam perjalanannya tafsir ini tidak sesuai ekspektasi. Penulisannya harus terhenti pada penafsiran QS. al-Baqarah/2: 36, karena di tahun 1982, Kiai Suhaimi wafat di usianya yang ke-63 tahun.

Jika Kiai Suhaimi wafat pada tahun 1982, maka bisa diasumsikan bahwa Tafsīr al-Qur’ān Berbahāsā Indonesia ditulis tidak jauh dari sebelum tahun wafatnya itu. Dalam artian, kemungkinan besar Kiai Suhaimi menulis karya tafsirnya tersebut pada tahun 1980 atau 1981. Sebab, penafsiran yang termaktub masih terbilang sedikit, yakni baru sampai pada penafsiran QS. Al-Baqarah/2: 36, dari yang semula targetnya adalah menafsirkan seluruh ayat-ayat di dalam Al-Qur’an.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Motivasi Awal Penulisan

Jika ditelisik secara mendalam antara rekam jejak perjalanan intelektual dan produktivitas menulis Kiai Suhaimi, keduanya tampak mempunyai relasi yang saling bersinergi. Hampir setiap disiplin ilmu yang telah dipelajari dari guru-gurunya, sebisa mungkin ia abadikan ke dalam sebuah karya tulisan.

Hal tersebut terbukti, misalnya sesudah matang belajar memahami pelajaran fikih, kemudian ia menulis karya di bidang fikih berjudul Bāb al-Zakāt dan Bahjah al-Saniyyah li Syarḥ al-Safīnah. Setelah tuntas belajar nahu, lalu ia menulis karya di bidang nahu berjudul al-Risālah al-Saniyyah li Qawā’id al-Naḥwiyyah. Pasca paripurna belajar tafsir, ia lantas menulis karya tafsir yang diberi nama Tafsīr al-Qur’ān Berbahāsā Indonesia. Dan beberapa disiplin ilmu lain yang setelah mempelajarinya, ia juga mengimplementasikan dalam bentuk karya tulisan.

Tinggalkan Balasan