Sejarah Penulisan Tafsīr Qur’ān Berbahāsā Indonesia Kiai Suhaimi

Dari sini dapat dipahami bahwa motivasi atau dorongan awal Kiai Suhaimi menulis Tafsīr al-Qur’ān Berbahāsā Indonesia adalah dalam rangka mempublikasikan ilmu yang telah ia pelajari. Ia tidak ingin menjadi tipikal orang yang menyembunyikan ilmu. Ia ingin mengamalkan sunah-sunah Nabi dengan cara menyampaikan risalahnya walau hanya melalui beberapa alenia. Ia beriktikad agar bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, dengan cara dakwah bi al-kitābah mengurai secara gamblang terkait makna yang terkandung di dalam al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup bagi setiap insan.

Ruang Basis Penulisan Tafsir

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ruang basis penulisan tafsir yang dimaksudkan di sini adalah tinjauan terhadap dimensi di saat apa karya tafsir itu ditulis dan dipublikasikan oleh penulisnya. Islah Gusmian dalam artikelnya, “Tafsir al-Qur’an di Indonesia: Sejarah dan Dinamika”, Nun, Vol.1, No.1, 2015, mengkategorikan persoalan ini ke dalam lima bagian: 1) tafsir Al-Qur’an yang ditulis dalam ruang basis politik kekuasaan atau negara; 2) tafsir Al-Qur’an yang ditulis di lingkungan dan basis sosial pesantren; 3) tafsir Al-Qur’an yang ditulis saat penulisnya aktif di lembaga pendidikan formal; 4) tafsir Al-Qur’an yang ditulis dari dalam ruang organisasi sosial Islam; 5) dan tafsir Al-Qur’an yang ditulis di luar empat basis tersebut.

Berdasarkan kategorisasi Islah Gusmian tersebut, maka dapat ditegaskan bahwa Tafsīr al-Qur’ān Berbahāsā Indonesia ditulis dari dalam ruang organisasi sosial Islam. Dikatakan demikian, sebab Kiai Suhaimi adalah seorang aktivis Nahdlatul Ulama. Tercatat, berdasarkan hasil konferensi cabang NU Banyuwangi tahun 1975, ia masih mendapat amanah menjadi bagian dari kepengurusan PCNU Banyuwangi.

Tafsīr al-Qur’ān Berbahāsā Indonesia yang diperkirakan ditulis antara tahun 1980 dan atau 1981, kemudian Kiai Suhaimi wafat di tahun 1982, maka dapat dipastikan hingga akhir hayatnya ia masih tetap istikamah menjadi seorang aktivis NU untuk berdakwah demi kemaslahatan umat. Oleh karena itulah, karya tafsir ini ditulis dari dalam ruang organisasi sosial Islam. Wa Allāh A’lam.

Tinggalkan Balasan