Dalam buku-buku tersebut, beliau menekankan bahwa setiap manusia memiliki jalan takdir yang unik, dan husnul khatimah—akhir yang baik—adalah sesuatu yang harus diupayakan oleh setiap muslim. Bagi beliau, menyebarkan pemahaman agama yang benar melalui tulisan adalah cara efektif mendekatkan umat kepada Allah.
Kiai Nisful sangat percaya bahwa tulisan memiliki kekuatan luar biasa. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali, “Jika Anda bukan anak raja, dan bukan pula anak ulama besar, maka menulislah.”

Melalui ungkapan ini, beliau terinspirasi untuk terus menulis sebagai cara memperluas dakwah, menjangkau lebih banyak orang, dan menembus batas ruang dan waktu.
Selain itu, Kiai Nisful juga terinspirasi oleh Ibnu Taimiyah yang mengatakan, “Dakwah tidak hanya dengan lisan, tetapi dengan tinta para ulama.”
Bagi Kiai Nisful, ilmu yang tertulis dalam buku-buku dapat terus hidup dan menyebar bahkan setelah penulisnya wafat, menjadikannya amal jariyah yang tak pernah putus.
Sebelum wafat, Kiai Nisful Laila Iskamil tengah merancang sebuah karya penting tentang sejarah Masjid Al-Shabirun dan Panti Asuhan Noer Mulyani. Bagi beliau, masjid dan panti asuhan yang didirikan bukan hanya tempat ibadah dan perlindungan bagi anak-anak yatim, tetapi juga simbol kebersamaan dalam masyarakat. Melalui buku yang belum selesai itu, beliau ingin mengabadikan sejarah panjang antara Panti Asuhan dan Masjid, agar generasi mendatang dapat memahami betapa pentingnya peran masjid dan panti asuhan dalam membina umat.
Hingga akhir hayatnya pada 25 Desember 2022, Kiai Nisful Laila Iskamil meninggalkan warisan yang tak ternilai meski buku yang dimaksud belum selesai beliau tulis. Kiai Nisful bukan hanya meninggalkan pesantren yang terus berkembang, tetapi juga jejak moral dan spiritual yang mendalam di hati masyarakat. Pesantren Asy Syifa tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga pusat pembinaan sosial yang terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Warisan moral, kesederhanaan, dan kebijaksanaan beliau akan terus hidup dalam hati santri dan masyarakat yang pernah berinteraksi dengannya.
