“Makmu ini dapat kerjaan buruh nanam padi di rumah Pak Mangir esok pagi. Besok ikut ibu nanam padi ya?”
Andin menelan ludah hingga terdengar suaranya. Dia tak mengangguk atau menggelengkan kepala. Namun gadis itu masih siap mendengar lanjutan ucapan maknya.

“Itu saja, Mak?” tantangnya.
“Cucikan baju bapak dan adik-adikmu serta bersihkan rumah dan teras belakang.”
Andin terperangah mendapat tugas tambahan dari ibunya itu. Tapi demi hari ibu, tak apalah, desisnya dalam hati.
“ Siap ya kerjakan itu semua Ndin? Mak mau ambil sembako bantuan dulu di rumah Pak Karsono. Terima kasih anakku. Mak berangkat dulu.”
Andin termangu memahami apa yang barusan didengarnya dari mulut Sang Ibu. Kehidupan nyata ternyata lebih keras daripada ucapan-ucapan sarkas para netizen di dunia maya yang tiap detik diikutinya.
“Oh iya, Ndin. Carikan rumput buat kambingnya sekalian ya…”
Tiba-tiba Andin ingin segera kembali ke dunia maya yang kini sudah menjadi dunia nyata baginya.
“Siap Mak!” tulis Andin beberapa detik kemudian di dinding medsos sembari rebahan.
