awr3_PI_halalbihalal

Sendok, Gelas, dan Pak Kiai

“Sil, kamu tak tinggal dulu, ya. Aku kebelet,” ucap santri senior sambil meninggalkannya purat-parit.

“Tapi gimana kalau ada panggilan dari da—.” Silfi tak melanjutkan teriakannya karena memang seniornya sudah pergi jauh menghampiri toilet santri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selang beberapa menit terdengar panggilan dari ruang tengah. Panggilannya tak begitu keras, sepertinya memang panggilan Pak Kiai. Silfi kebingungan. Apa yang harus ia lakukan. Apakah menghampiri Pak Kiai, atau menunggu seniornya kembali? Tapi, panggilan itu terus menerus. Bisa saja penting. Silfi pun dengan gugup menghampiri suara khas yang biasanya hanya ia dengar ketika di majlis saja itu.

“Mbak, Mbak,” ucap Pak Kiai.

“Iya, Kiai,” Silfi menunduk mendekati Kiai.

“Mbak, tolong ambilkan @#%$,” suara Kiai mengecil.

“Baik, Kiai,” jawaban Silfi sambil kembali ke dapur.

Sesampainya di dapur, Silfi kebingungan, berusaha mencerna apa yang dikatakan Pak Kiai. Tapi ia tidak fokus, pendengarannya kabur ikut gugup mengingat ini pertama kalinya. Ia mencoba berpikir keras. Yang diminta Pak Kiai sendok atau gelas ya? Hampir lima menit Silfi belum bisa mengambil kesimpulan. Hingga panggilan itu kembalin terdengar.

“Mbak!”

Tinggalkan Balasan