Artinya: Hendaknya lebih dahulu mempelajari ilmu tauhid dan mengetahui Allah Swt beserta dalil-dalil-Nya.
Selain itu, kita juga dianjurkan untuk memperlajari ilmu-ilmu salaf (kuno) yang diajarkan Nabi Saw, sahabat, tabi’in, tabi’in tabi ‘in.
ويختار العتيق دون المحدثات، قالوا: عليكم بالعتيق وإياكم بالمحدثات، وإياك أن تشتغل بهذا الجدال الذى ظهر بعد انقراض الأكابر من العلماء، فإنه يبعد عن الفقه ويضيع العمر ويورث الوحشة والعداوة، وهو من أشراط الساعة وارتفاع العلم والفقه،كذا ورد فى الحديث

Artinya: Hendaknya pula memilih ilmi-ilmu yang kuno, bukan yang baru lahir. Banyak ulama berkata : “Tekunilah ilmu kuno, bukan yang baru saja ada.” Awas, jangan sampai terkena pengaruh perbantahan yang tumbuh subur setelah habisnya ualama besar, sebab menjurus untuk menjauhkan pelajar dari mengenali fikih, hanya menghabiskan usia dengan tanpa guna, menumbuhkan sikap anti-pati/buas dan gemar bermusuhan. Dan itulah termasuk tanda-tanda kiamat akan tiba serta lenyapnya fikih dan pengetahuan-pengetahuan lain, demikianlah menurut hadis.
Sejatinya, dunia hanyalah tempat manusia diuji dengan deret kenikmatan dan cobaan. Maka dari itu, selain memberi stimulasi perkembangan fisik, anak juga perlu diberi stimulus ajaran tauhid dan pondasi hukum-hukum Allah sebagai dasar sekaligus penuntun anak menjamah kehidupan fana.
Tidak heran apabila sejak dahulu, nenek moyang kita mengajarkan anak-anak kecil baik di langgar, masjid, surau, ataupun mushola mengenalkan wujud qidam baqo sebagai esensi pengenalan tauhid begitu juga dengan rukun-rukun Islam.
Lebih menarik, pengenalan tersebut dikemas dalam seni lagu. Dengan lagu anak-anak akan lebih mudah menghafalnya. Tidak dapat dimungkiri, bahwa dunia anak merupakan dunia yang menyenangkan. Bernyanyi dan bersenda gurau adalah hal yang diminati anak-anak usia dini.
Karena itu, salah satu cara terbaik dalam mendidik anak gen alpha juga dengan mewujudkan masjid ataupun lembaga pendidikan yang ramah anak. Anak-anak, di usianya yang aktif bahkan hiperaktif, membutuhkan sentuhan kasih sayang bukan dengan amarah. Di sisi lain, hal itu menjadi teladan bagi anak untuk mengenalkan Islam yang ramah tanpa marah dalam menebar rahmah dan mashlahah. Mengingat, saat ini banyak sekali propaganda ideologi mengatasnamakan Islam bergaris keras (ekstrimisme).
Sampai saat ini ajaran nenek moyang itu (dengan lagu-lagu) masih lestari dan perlu dirawat dengan baik. Seni mengenalkan tauhid maupun hukum-hukum Allah dengan lagu akan lebih membekas di hati dan otak anak. Apalagi jika disertai dengan gerak-gerakan, anak akan lebih menikmatinya.
Dalam dunia anak usia dini, saya dan teman-teman merasakan bahwa anak-anak lebih menyukai pengenalan dasar agama dengan lagu-lagu daripada sekadar penjelasan panjang lebar. Di sinilah lagu sebagai jembatan pemahaman anak. Dengan hanya mendengarkan penjelasan semata, mereka akan lebih tertarik untuk mengusili temannya atau bergurau dengan temannya. Hal ini sangat maklum karena tingkat kefokusan anak terbatas pendek.
Hal ini selaras dengan pernyataan Bhavi Sirpal, ahli patologis bahasa anak di Ontario, Kanada. bhavi mengatakan bahwa rentang perhatian balita memang masih pendek.
