Seni Mengenalkan Fondasi Agama pada Gen Alpha

Mengutip dari halodoc, menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Brain Balance Center, disebutkan kalau rentang konsentrasi anak yang ideal adalah dua hingga tiga menit dikali usia mereka. Anak usia 2 tahun, rentang konsentrasi idealnya 4-6 menit, sedangkan 4 tahun idealnya 8-12 menit, 6 tahun idealnya 12-18 menit, dan 8 tahun di 16-24 menit.

Melihat konteks tersebut, diperlukan seni belajar yang menyenangkan dengan proporsional sesuai usia anak. Dengan menakar usia anak yang sedang asyik-asyiknya bermain, perlu sekali menyisipkan ilmu terpenting sebagai fondasi ketauhidan dan pengenalan dasar hukum Allah dengan cara yang menyenangkan dan asyik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sejatinya agama ini indah, lekat dengan kasih sayang dan cara menyampaikannya juga perlu cara yang indah. Lagu mempunyai nilai estetika yang sarat akan nilai seni. Jika dahulu Walisongo mengenalkan tembang-tembang seperti Sluku-sluku Batok sebagai bentuk dakwah, misalnya, maka lagu-lagu terkini yang digemari anak juga bisa menjadi seni dakwah era modern. Salah satunya sebagai bentuk pengalihan fokus anak terhadap gadget.

Peranti canggih produk kemajuan teknologi digital juga telah menyuguhkan hal-hal positif. Kita dapat menggunakannya untuk mencari lagu-lagu yang disukai anak, lagu-lagu kreatif tentang tauhid dasar, bahkan kita juga dapat men-sharing lagu kreasi sendiri di media tentang pengenalan tauhid kepada anak gen alpha.

Di antara berbagai deret seni lagu tauhid maupun hukum Allah yang familiar dan disukai anak yaitu Satu-satu Aku Sayang Allah, Saya mlMau ke Makkah, Tepuk Tugas Malaikat, anama-nama Nabi, Anak-anak Nabi, Mukjizat Nabi, Tepuk Wudhu, dan masih banyak lagi.

Pemikiran dan hati bersih yang belum terkontaminasi dengan ego tersebut menjadi aset berharga yang perlu dikucuri ajaran tauhid agar dimanapun mereka berada selalu merasa Allah selalu mengawasi secara dekat. Sehingga kelak, jika tumbuh menjadi gen-gen alpha dengan segala karut marutnya dunia dan keruhnya arus informasi, mereka akan tangguh dan selalu berpegang pada nilai kebenaran karena merasa setiap gerak geriknya diawasi Allah dan dicatat oleh malaikat-Nya.

Tentu dengan bekal fondasi-fondasi keagamaan yang kukuh akan menjadi aset-aset berharga masa depan, menjadi iinvestasi dunia akhirat berkelanjutan. Wallahu a’lam bis showab.

Sumber foto: rri.co.id.

Tinggalkan Balasan