Tak ada yang tau
Atau berhak sok tau.

Sepanjang jalan menuju Tegalweru, orang-orang sibuk menghiburku untuk lebih tabah
merasakan pening teramat menyiksa
Aku tau tak akan ada yang mampu kulakukan kecuali bus berhenti di tempat tujuan dan aku turun mengakhiri penderitaan
Sesak dan berhimpit jadi alasan
ingatan para penumpang tumpang tindih dan saling senggol.
Di minibus, masing-masing memangku budaya adat dengan erat. Saling toleh untuk melepar senyum; bersalaman.
Budaya-budaya berbeda itu bisa saling berpelukan. Tak perlu disembunyikan.
Jalan kian menanjak, sementara keinginan untuk sampai kian tidak berjarak.
Celoteh-celoteh mulai kehabisan amunisi, menit jadi terasa semakin lambat, saling lirik, sisanya penumpang memilih memejamkan mata
; menjenguk kampung halamannya dalam mimpi.
TEGALWERU DAN SENI MERACIK TAKDIR
Tegalweru adalah pecahan surga yang kutemukan di bawah langit Malang.
Ia dataran tinggi-
yang dari sana, aku dapat melihat hamparan harapan manusia memanjang dari ingatan sampai tangan-tangannya.
Mereka menanam jeruk
-sebagai komoditas utama di tanah surga.
Tangan mereka lentik dan cekatan
apapun bisa tumbuh subur.
Tapi jeruk adalah takdir yang mereka racik sendiri
kukira, Tuhan menyepakati
kemudian malaikat mencacakkan tugu desa
dengan jeruk di bagian teratas.
-bagian paling tinggi dari takdir manusia
adalah hasil upaya keras mereka sendiri.
***
ilustrasi foto: liputan6.com.
