tapi diam-diam, manik mataku menyepakati bentuk lain.
Bukit Bintang adalah nasib.

Aku menemukan apa yang orang lain tidak temukan-
di sana
ada pintu surga. Dari celah tatapnya, kuharap ia pelukan
-yang mendamaikan.
GIGIL KENANGAN SEPASANG LENGANS MERANGKUL INGATAN
Tepat di jantung kota Batu, aku berusaha melepas separuh diriku
meninggalkannya di sana bersama keraguan yang mencekik malam.
Taman kota memang selalu lebih mampu mengartikan pelukan pertemuan
dan aku menemukan tatap dengan lebih
banyak penafsiran.
Sementara pikiran kita sibuk menebak-nebak takdir dengan pongah, padahal nasib manusia
bukan milik manusia.
Orang lain sibuk berbicara, tapi senyum mereka mengatakan lebih banyak kata
anak-anak berlarian penuh cita, berkejaran dengan usia sebelum mereka benar-benar dewasa.
Tapi aku sibuk membisu,
semesta, boleh kuminta pahat kenangan ini sebagai sebuah paling yang saling?
tapi aku tetap diam, meski pikiranku terlalu banyak menyampaikan sesuatu
sisanya-
rapalan doa-doa.
Riuh taman kota Batu mulai sepi. Gigil kian meresapi kenangan bagai sepasang lengan merangkul ingatan.
DI ATAS MINIBUS
Minibus membawa lari seabrek kemungkinan dengan ugal-ugalan
pak sopir hanya tersenyum; enggan menyulut api di dada masing-masing penumpang yang tampak mulai mual.
Aku kehilangan arah dan lupa kiblat tujuan
menyadari bahwa membelakangi hadap untuk menghadap belakang.
yang kuingat adalah bahwa Dau akan menjadi tempatku tinggal
Sungguh atau singgah
