SENI MERACIK TAKDIR

tapi diam-diam, manik mataku menyepakati bentuk lain.

Bukit Bintang adalah nasib.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku menemukan apa yang orang lain tidak temukan-

di sana

ada pintu surga. Dari celah tatapnya, kuharap ia pelukan

-yang mendamaikan.

GIGIL KENANGAN SEPASANG LENGANS MERANGKUL INGATAN

Tepat di jantung kota Batu, aku berusaha melepas separuh diriku

meninggalkannya di sana bersama keraguan yang mencekik malam.

Taman kota memang selalu lebih mampu mengartikan pelukan pertemuan

dan aku menemukan tatap dengan lebih

banyak penafsiran.

Sementara pikiran kita sibuk menebak-nebak takdir dengan pongah, padahal nasib manusia

bukan milik manusia.

Orang lain sibuk berbicara, tapi senyum mereka mengatakan lebih banyak kata

anak-anak berlarian penuh cita, berkejaran dengan usia sebelum mereka benar-benar dewasa.

Tapi aku sibuk membisu,

semesta, boleh kuminta pahat kenangan ini sebagai sebuah paling yang saling?

tapi aku tetap diam, meski pikiranku terlalu banyak menyampaikan sesuatu

sisanya-

rapalan doa-doa.

Riuh taman kota Batu mulai sepi. Gigil kian meresapi kenangan bagai sepasang lengan merangkul ingatan.

 

DI ATAS MINIBUS

Minibus membawa lari seabrek kemungkinan dengan ugal-ugalan

pak sopir hanya tersenyum; enggan menyulut api di dada masing-masing penumpang yang tampak mulai mual.

Aku kehilangan arah dan lupa kiblat tujuan

menyadari bahwa membelakangi hadap untuk menghadap belakang.

yang kuingat adalah bahwa Dau akan menjadi tempatku tinggal

Sungguh atau singgah

Tinggalkan Balasan