“Apa,” dia menjawab lirih pula.
“Aku keluar dulu beli kopi ya, boleh?”

“Iya,” jawaban ibuku tetap lirih.
Kukecup keningnya.
“Seperti mau ke mana saja Mus…” bisiknya. Aku tertawa kecil. Sepertinya kondisi ibuku sudah mendingan.
“Tidurlah Bu,” ucapku sambil melangkah pergi.
Ketika sampai di kantin aku segera membuka HP yang tidak sempat kubuka hampir seharian ini. Notif chat whatsapp berdentingan menggetarkan HP di sakuku, kulihat ada ratusan jumlahnya. Kupilih chat dari grup kantor, ternyata isinya tentang tugas-tugas baru. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku sempatkan menelepon beberapa teman untuk bagi tugas. Setelah itu aku menghubungi teman-teman untuk mengkonfirmasi beberapa data. Aku kemudian menyeruput kopi yang kupesan tadi. Sudah dingin. Ternyata sudah lama aku meninggalkan ibu sendirian. Kopi itu kutandaskan dan segera bergegas untuk menuju kamar inap ibuku.
Jleg!
Di depan mataku kulihat perawat itu sedang membersihkan badan dan baju ibuku. Entah apa yang telah terjadi. Perasaanku tidak karuan melihat perempuan yang telah melahirkanku itu tampak lemah tak berdaya, tanpa ada aku di sampingnya.
“Kenapa Bu?” tanyaku parau.
Tak ada jawaban. Dan perawat itu masih membersihkan ibuku dengan washlap dan handuk kecil.
“Ibunya diare Mas, kenapa sampai ditinggal begitu lama?” omel perawat itu lagi.
Aku merasa canggung, haruskah kubantu dia membersihkan sisa diare ibuku? Tapi aku tak biasa berdekatan dengan wanita. Akhirnya aku hanya bisa menonton tangan cekatan penuh kelembutan perawat itu.
“Mus, kamu kok diam saja?” tanya ibu dengan tatapan beku. Sekali lagi, ibuku wanita tangguh yang pantang mengaduh atau mengeluh menghadapi rasa sakit. Wajahnya tampak tenang walau tubuhnya menahan sakit.
Aku bingung harus menjawab apa. “Itu sudah dibantu mbaknya, Bu. Nanti malah jadi ngganggu kalau aku ikutan ke situ,” jawabanku tercekat ragu.
“Tadi baru ngecek tugas kantor, jadi lama. Ternyata diarenya kambuh lagi,” dengusku.
“Makanya cepat cari istri biar ada yang merawat ibumu ini,” jawaban ibu menohokku.
“Lha itu sudah ada yang merawat, Bu,” kujawab ucapannya dengan cengengesan.
“Kamu itu, laki atau bukan suruh nikah mbulet saja dari dulu,” ibu semakin tajam menghinaku. Dasar ibu. Sakit saja masih sempat melontarkan cacian padaku.
“Ya nanti, Bu. Jangan kaget kalau anakmu ini langsung menikahi dua istri,” kujawab dengan sombong.
“Halah! Satu saja nggak dapat-dapat!” dengusnya. Aku tertawa. “Dulu bilang nggak mau sama calon yang dicarikan ibu. Mus…Mus.”
