Seorang Perawat yang Mengusik Masa Lalu

“Ibu juga sih, nggak mau sama calonku yang jelita, pintar, dan baik itu. Ya sudah, begini jadinya. Ibu harus sabar menunggu anaknya ini menemukan sang bidadari pujaan hati,” tangkisku cepat.

“Ibu, tidak boleh marah-marah ya, nanti tensinya naik,” tutur perawat itu lembut. Aku terdiam memperhatikan. Ternyata perempuan lembut itu mempesona.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ibu itu sedang bercanda Mbak. Dia paling pandai menertawakan hidup. Aku pun sering tertawa dibuatnya,” aku menyahut.

Perawat itu kemudian keluar lagi. Aku menunduk begitu dia lewat di depanku. Entah kenapa, ada getaran halus di dadaku berpapasan dengannya. Ibu lantas tidur lagi. Kulihat tetesan cairan infus cepat sekali.

Malam semakin larut. Suasana rumah sakit kian senyap. Aku iseng jalan-jalan melihat suasana. Hanya ada beberapa kamar yang terbuka dan berpenghuni. Tiba-tiba terbersit di pikiranku, bagaimana seandainya tak ada Corona sedang ibu sakit begini? Padahal aku harus kerja dan tak setiap saat bisa menungguinya yang semakin renta. Ah, Tuhan memang pandai menyelipkan hikmah di setiap celah musibah.

Aku melangkah ke depan ruang perawat. Teringat olehku tentang perawat itu. Akan kutanyakan sekalian tentang penyakit ibuku.

Deg!

Dadaku berdesir hebat. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa pandangan mataku tak keliru. Di lobi perawat itu kulihat dia tertidur dengan masker yang diturunkannya ke leher. Jihan? Dia Jihan yang pernah dijodohkan ibu padaku itu? Pikiranku meletup-letup. Dadaku bergemerincing riuh. Melihatnya nyenyak dalam tidur kulekatkan penglihatanku padanya. Ternyata Jihan se-mempesona ini? Pantas saja dulu ibu sempat memaksa-maksaku dengannya bahkan hingga tensinya terus naik begini. Hmmm. Ah ibu, kau memang selalu mencarikan yang terbaik buat anakmu yang bandel ini.

Keesokannya perawat yang ternyata Jihan itu datang ke kamar bersama temannya. Ternyata mau rotasi jaga. Habis ini dia akan pulang. Pantas saja dia sangat telaten merawat ibuku. Mereka kenal baik sebenarnya. Mungkin karena dia tak ingin kukenali sehingga tak mau menampakkan diri. Dan tubuhnya yang kini jadi berisi membuatku tak lagi mengenalinya. Terakhir aku melihatnya dua tahun yang lalu. Dan waktu selama itu tentu saja sudah banyak sekali perubahan.
Mondar-mandir aku menanti dia pulang. Setelah kulihat dia berjalan menuju lift aku bergegas menyusulnya. Berhasil! Kini aku berdua dengannya dalam satu lift! Tapi aku bingung bagaimana harus memulai bicara.

“Kamu Jihan, kan?” akhirnya aku memulai percakapan. Tanpa basa-basi.

“Eh. Iya. Mas. Kok Mas tahu?” nada suaranya nampak bergetar. Ternyata bukan aku saja yang nervous.

“Iya. Firasatku tak pernah keliru,” asal-asalan aku berkata. “Sejak kapan kerja di sini?” interogasi berlanjut. Aku harus berhasil. Akan kubahagiakan ibuku dengan mencintainya. “Setahun yang lalu Mas,” jawabnya lirih.

“Hmmm. Sekarang aku tahu kenapa dulu ibu ngotot sekali untuk menjadikanmu sebagai menantu.”

Jihan tak menyahut kalimatku yang tanpa tedeng aling-aling itu.

“Sekarang kamu pasti tahu aku masih sendiri. Iya kan?”

Dia tetap membisu.

“Bukankah kamu juga masih sendiri sekarang?” tanyaku, menguatkan diri menebalkan muka.

“Maaf, Mas. Firasatmu keliru. Aku harus segera pulang untuk meneteki anakku,” ucapnya lirih, membungkamku.

Lift terbuka. Dia lantas melangkah pulang. Wajahku pias. Tubuhku lemas. Kuhirup napas dalam-dalam, lalu kulepas perlahan. Entah akan kutaruh di mana mukaku jika dia akan mendapat piket menjaga ibuku lagi. Maafkan aku ibu, dulu aku pernah mengabaikan ucapanmu.

Cemoro, 22 Juni 2020.

Tinggalkan Balasan