“Ha-ha-ha, seseorang yang penasaran akan terus mencari jawaban,” celetuk Kiai Mukhlis. “Dan kamu orang yang belum menemukan jawaban,” tambahnya.
“Jadi gimana, Kiai?”

“Begini, kamu tahu Uwais Al-Qarni? Orang yang dianggap gila karena kesufiannya. Atau cerita Laila Majnun? Yang dianggap gila karena cintanya? Nah, masih banyak orang yang dianggap gila karena pikiran mereka jauh melampaui zaman. Selain itu, kita tidak boleh melihat seseorang hanya dari satu sisi, apalagi melihat kejelekannya saja. Siapa tahu, suatu saat orang itu bakal berbuat baik, dan kita yang berbuat jahat. Begtiupun sebaliknya.”
“Tapi, kan, Kiai, tak ada hubungannya kegilaan Nyi Pohaci dengan Uwais Al-Qarni, apalagi Laila Majnun. Nyi Pohaci sudah umur 50 tahun tapi gak nikah-nikah.”
“Begini, apa yang kita lihat baik bisa jadi tidak baik, apa yang kita lihat buruk bisa jadi sebenarnya baik. Apakah kamu pernah berpikir, misalnya, Nyi pohaci sering melihat ke pesantren ini karena dalam hatinya dia ingin mondok? Mungkin belum kesampaian, tapi tetap ingin berbuat baik. Nah, jangan sampai kita malah merasa menjadi orang baik. Ada dua sudut pandang yang berbeda saat orang melihat sesuatu. Seperti ini, Nyi Pohaci melihat orang-orang di pesantren ini dengan sudut pandang positif, dia menganggap kalau orang pesantren sebagai orang baik dan saleh. Sedangkan kita, melihat mereka yang dianggap sebagai orang gila dengan sudut pandang negatif, bengal, gila, bodoh, tidak punya masa depan. Apakah itu pandangan baik? Mereka melihat kita dari sisi positif, tapi kita membalas dengan pandangan negatif?”
“Jadi, kita harus tetap memandang Nyi Pohaci sebagai orang baik?”
“Semua orang harus dilihat sisi positifnya supaya kita tidak merasa benar sendiri, apalagi sampai uzub.”
Percakapan itu berlanjut sampai larut malam. Setelah puas dengan penjelasan Kiai Mukhlis, santri itu memutuskan untuk pamit pulang.
Pada suatu hari yang ribut, penduduk kampung Patuha dikejutkan dengan seorang bayi perempuan di dalam tong sampah. Orang tua biadab seperti apa yang tega membuang anak yang tak berdosa kecuali iblis. Meski mereka mengutuk perbuatan orang tua si bayi tersebut, nyatanya tidak ada yang berani mengambil bayi itu kecuali Nyi Pohaci. Kemudian, mereka kembali menggunjing dan meramalkan apa yang akan terjadi pada bayi itu kalau diurus oleh seorang perempuan aneh.
Nyi Pohaci yang telah hidup puluhan tahun sendiri, kini ditemai seorang bayi yang malang, yang dibuang oleh orang tuanya karena dianggap kelahirannya adalah sebuah aib. Orang-orang Patuha setiap hari terus membicarakan nasib bayi itu dengan liar. Tapi Nyi Pohaci tidak pernah mempedulikan omongan tentang dirinya. Bayi itu selalu diajak berkeliling kampung bersama gerobak tuanya, sampai pukul setengah tujuh setelah azan magrib, Nyi Pohaci duduk di persimpangan jalan menatap pesantren Kiai Mukhlis bersama bayi malang itu.
“Nanti kalau sudah besar, kamu harus belajar di pondok pesantren itu,” bisik Nyi Pohaci yang begitu lirih, seperti doa-doa yang selalu ia bisikkan setiap saat. Barangkali malaikat pun ikut mengamini doa perempuan gila tersebut.
