Seorang Perempuan di Persimpangan Jalan

Santri itu terheran-heran. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang jelas-jelas kelakuannya seperti orang gila tidak boleh dianggap orang gila? Selain itu, Nyi Pohaci terkenal pembuat onar sehingga tidak disukai orang-orang di kampung Patuha.

Keseokan harinya, pada waktu yang sama, santri tersebut kembali memperhatikan tingkah kiainya dan masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Hampir setiap hari setelah pertanyaan itu, santri tersebut selalu memperhatikan tingkah kiainya kepada Nyi Pohaci. Sudah enam bulan lewat tujuh hari kebiasaan menatap sambil melempar senyum sang kiai tidak pernah berubah. Namun santri itu masih belum menemukan jawaban atas pernyataan kiainya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Anu, Pak Kiai….”

“Ada apalagi?“

“Saya masih belum menemukan jawaban soal jangan menganggap gila orang lain karena tingkah lakunya itu.”

“Memang kamu ingin jawaban seperti apa?”

Santri itu semakin bingung, alih-alih mendapatkan jawaban, ia malah disuruh memilih mau jawaban seperti apa.

Karena penasaran, seletah selesai salat Isya, santri tersebut memberanikan pergi ke rumah Kiai Mukhlis untuk mencari jawaban dari semua kebingungannya itu.

Kaget bukan kepalang, belum sempat mengetuk rumah Kiai Mukhlis, seorang laki-laki duduk di teras rumah dengan dua cangkir kopi di atas karpet biru bercorak bunga. Dari kejauhan, sosok lelaki itu seperti tak asing bagi si santri.

“Aku tahu kamu bakal datang ke rumah,” kata Kiai Mukhlis.

“Waduh, apakah kiai punya ilmu melihat masa depan?”

Tinggalkan Balasan