Lahir dari rahim waktu,
Memamah gerhana rembulan
Pada sebak air mata anak sungai
Martawi memungut daun bidara
Memilin pecahan pelangi
Curah rindu di derai gelombang
Kisah perih retak hati mati
Peluh peras jerit jiwa
Darah cinta membakar wajah purba

Dekaplah degup, Martawi!
Riuh mawar rasuki pilu senyummu
Memerah cekat sekerat lindu
Martawi gerah,
Melipat dada pejamkan aksara
Bakarlah kabarmu, Marta!
Agar tanah tak lagi bara
Memendam riak tuak abadi
Di lekuk kidung kobaran api
Martawiku, Marta!
Sumenep, 12072019.
ilustrasi: pixnio.com
