“Iya Dok, saya insaallah siap berapa pun biayanya. Tolong usahakan ya, Dok, demi nyawa putri saya,” pinta lelaki itu memelas.
Dokter itu menarik napas dalam-dalam kemudian mengangguk pelan. Tak lama kemudian keduanya berpisah, diakhiri dengan saling berjabatan tangan. Sang dokter bergegas melangkah menuju ke ruangannya. Dokter muda itu memutar otaknya untuk mencari solusi. Tangannya kemudian sibuk memencet keypad HP. Menghubungi nomor relasinya. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. Pikirannya yang berselancar dengan berbagai urusan kini segera terpusat pada pintu itu. Setelah menyuruh masuk, pintu itu segera terbuka. Dokter itu kaget melihat yang datang adalah seorang bocah. Otaknya yang cerdas masih sangat ingat, dia adalah anak yang baru saja ditolongnya. Ia terheran-heran mengapa anak kecil itu datang menemuinya?

* * *
Sore itu Pak Rusdi merasa begitu payah sepulang narik becak. Wajahnya lesu karena menyadari pendapatannya hari ini belum cukup untuk sekadar biaya perawatan anaknya di rumah sakit. Ia mengayuh becaknya perlahan menuju rumah sakit. Ketika sampai di kamar tempat anaknya dirawat, terkejutlah dia mendapati istrinya menangis tersedu di samping anaknya yang terbaring diam.
“Kenapa dengan anak kita, Bu?” tanya Pak Rusdi tergopoh-gopoh.
“Fasta Pak, Fasta….”
“Kenapa Bu? Ada apa dengan Fasta? Kenapa dia pingsan?”
“Fasta menjual ginjalnya Pak. Tadi ada seorang dokter yang datang ke sini. Katanya dia melakukannya supaya bisa melanjutkan sekolah.”
“Kenapa Ibu sampai tak tahu? Kenapa ibu membiarkannya?”
“Aku masih masak di rumah Pak. Tahu-tahu dia sudah seperti ini ketika aku tiba.”
Suami istri itu kemudian terdiam. Menyelami keadaan yang terpampang di depannya dengan perasaan bingung.
“Tapi Bapak nggak usah terlalu kawatir,“ Bu Alini berkata setelah lama terdiam. “Sebentar lagi dia akan sadar. Sekarang sebaiknya Bapak pergi ke rumah Haji Ali untuk bertanya bagaimana caranya mendaftar ke Pesantren Al-Hidayah sebelum pendaftarannya tutup. Jangan sampai pengorbanan Fasta sia-sia. Dokter tadi menasihatiku seperti itu Pak,” kata Bu Alini kemudian. Matanya sayu menatap sang suami.
Mendengar ucapan istrinya itu Pak Rusdi terdiam sambil memandangi anaknya yang terkulai lemas di pembaringan. Matanya berkaca-kaca. Setelah mencium keningnya, lelaki itu melangkah pergi. Menuruti nasihat istrinya untuk menyadur kembali mimpi anaknya melanjutkan sekolah di pesantren. Ketika langkah kakinya sampai di tengah pintu, ia berhenti. Ditolehnya lagi putri satu-satunya itu. Wajah gadis itu putih bersinar. Dari bibir mungilnya seolah-olah merekah seulas senyuman yang menguatkan hatinya. Lelaki itu terharu. Kemudian mengutuki dirinya sendiri yang tidak bisa memberikan apa yang diinginkannya. Karena semata-mata ketidaksanggupannya melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang ayah-lah putrinya itu kemudian menggadaikan ginjalnya, demi meraih cita-cita.
“Betapa putih hatimu, Nak. Maafkanlah ayahmu yang tidak bisa berbuat apa-apa ini,” gumam lelaki itu dalam hati sambil melangkah pergi.
“Mau ke mana Pak?” tanya seseorang yang berpakaian dokter ketika Pak Rusdi baru melangkahkan kaki keluar ruangan. Di belakangnya ada lelaki pejabat kemarin.
“Mau pulang dulu, Dok. Ada apa ya?” tanya Pak Rusdi, wajahnya mengisyaratkan kecemasan yang luar biasa.
“Apa Bapak ini ayahnya Fasta?” tanya Dokter.
“Iya … Pak… eh Dok.” Pak Rus semakin panik
“Jadi begini Pak. Kemarin anak bapak menemui saya dan bilang mau mendonorkan ginjalnya. Menjualnya maksud saya. Katanya dia sedang sangat membutuhkan uang untuk melanjutkan sekolahnya, sedangkan orang tuanya sedang sakit. Sebenarnya saya tidak berani melakukan operasi itu tanpa ada orang tuanya. Namun, di sisi lain ada Bapak Heri ini yang sedang membutuhkan ginjal itu untuk kesembuhan anaknya. Pak Heri kemudian memaksa saya untuk mengambil ginjal anak Bapak. Sebenarnya saya masih bingung, namun akhirnya saya mau melakukan operasi itu juga. Saya sudah sempat membiusnya. Namun Tuhan memang sedang memerankan skenarionya. Saat itu pula tiba-tiba terdengar kabar putri Bapak Heri yang menderita gagal ginjal itu meninggal dunia. Akhirnya saya tidak jadi melanjutkan operasi itu.”
Mendengar penuturan dokter itu, Pak Rusdi hanya terdiam. Bingung harus menanggapi bagaimana. Bahkan dia tidak paham kabar itu apakah baik baginya ataukah tidak.
“Nah, atas kebaikan anak Bapak, saya bermaksud untuk membiayai sekolah anak Bapak. Sebagai penghargaan saya atas perjuangan dan kebaikannya. Ya sudah Pak. Saya mau pergi dulu,” kata lelaki bernama Heri itu. Matanya masih sembab. Bekas air mata menangisi kepergian anaknya.
“Semoga putri Bapak bisa meraih cita-citanya Pak,” kata sang Dokter sambil menjabat tangan tukang becak itu.
Pak Rus masih terbengong ketika dua lelaki itu telah sekian langkah meninggalkan dirinya. Dia terlambat memahami keadaan. Namun, kemudian dia segera tersenyum menyadari peristiwa ini. Terucaplah takbir dari mulutnya yang kering karena terlalu lama menganga itu. Langkahnya kemudian bergegas menuju kamar inap putrinya didorong oleh rasa bahagia yang tiba-tiba menguar dari kedalaman hatinya.
Wel-Wel, Simeulue, 24-11-2015
