Sepenggal Kisah Putri Tukang Becak

“Bilang apa, Ma?” Fasta menjawab pertanyaan sahabatnya itu dengan memberikan petanyaan balik. Pelan langkahnya serta kepalanya yang tertunduk mengisyaratkan kegalauan pikirannya.

“Kamu gimana, sih? Yang kita bicarakan kemarin, Ta. Katanya kamu pingin hafalan Qur’an juga? Sayang Ta kalau nggak diterusin. Kamu kan tinggal nambah dua puluh sembilan juz lagi? Aku yang belum hafal satu juz pun saja mau melanjutkan ke sana.” Salma berbicara sambil memegang pundak Fasta. Mencoba menyalurkan semangat yang dimilikinya. Namun Fasta masih tetap saja tertunduk. Dia melangkah pelan membawa diamnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ta!!! Kamu denger aku ngomong nggak sih?”

“Denger Ma! Aku belum budek!”

“Kalau denger jawab dong?” Salma menurunkan volume suaranya. Merasa takut melihat Fasta yang biasanya kalem itu beteriak.

“Aku harus jawab bagaimana Ma? Kamu kan tahu, ayahku hanya seorang tukang becak. Mau narik sehari seratus orang pun belum tentu bisa bayar uang masuknya. Apa bedanya antara bilang mimpiku itu dan tidak padanya?”

“Jadi kamu nggak bilang?” Salma bertanya lagi. Kali ini suaranya semakin lirih.

“Ke ayah nggak. Ibu iya.”

“Kan yang kerja ayahmu Ta. Kenapa bilangnya malah ke ibumu?”

“Bilang ke ayah hanya menambah bebannya saja Ma. Aku nggak tega. Terlalu banyak yang harus dipikirkannya. Setidaknya ibu bisa mendoakanku. Walau kerja ayahku biasa saja tapi doa ibuku luar biasa. Doa ibu pada anak adalah doa yang mustajab. Hanya itu yang bisa kulakukan kini.”

Mendengar jawaban Fasta seperti itu Salma terdiam. Dia bingung harus bilang apa. Kemudian keduanya melangkah pulang diiringi diam. Hanya ketepak kakinya ketika menjejak aspal suara yang terdengar oleh telinga mereka. Di atas sana langit senja sedang muram. Sang matahari yang biasanya membuat cerah merona sedari tadi siang tidak menampakkan diri. Mendung sedang mengurung hamparan langit di balik tebal sayapnya yang kehitam-hitaman.

* * *

Fasta bangkit dari tidurnya. Dari kamar ia mendengar percakapan antara kedua orang tuanya. Maka terdengarlah betapa sulit kehidupan keluarganya kini. Gadis kecil itu merasa kasihan pada orang tuanya. Namun, di balik rasa kasihan itu ada keinginan yang tidak dapat dibendung. Matanya yang masih jernih itu berkaca-kaca.

Kenyataan yang tidak sejalan dengan keinginannya itu membuat tubuhnya sakit. Karena keadaan semakin parah akhirnya Pak Rusdi dan Bu Alini membawanya ke rumah sakit. Dan Fasta sadar bahwa keinginannya semakin jauh dari kenyataan yang dihadapi. Anak kecil itu hanya bisa berdoa. Ayah dan ibunya silih berganti menjaga dirinya di rumah sakit. Teman-temannya juga banyak yang menjenguknya. Salma dan Tania adalah dua teman Fasta yang melanjutkan belajar ke pesantren. Mereka juga menjenguknya. Mereka sempat membincangkan rencana belajar di pesantren. Dan itu semakin membakar keinginannya. Air mata sering menetes tak tertahan menyadari kenyataannya sekarang begitu sulit.

Berlalunya waktu seiring perubahan keadaan membawa perubahan pula pada kesehatan Fasta. Gadis kecil itu berangsur-angsur sehat.

* * *

“Jadi bagaimana Dok? Pengobatan seperti apa yang bisa menyembuhkan putri saya?” tanya seorang lelaki mendapati seorang dokter keluar dari ruang operasi.

Belum sempat pertanyaan itu dijawab, lelaki berpenampilan necis itu tiba-tiba menabrak seorang gadis kecil yang berjalan gontai di depannya. Lelaki itu berjalan dengan pikiran tidak karuan karena keadaan kritis anaknya. Pikiran yang sedang tidak fokus membuatnya tidak melihat ada anak kecil berjalan di depannya. Dia sedang mengejar informasi dari dokter yang merawat anaknya.

Anak kecil yang sedang berjalan sambil mendorong tiang infus itu jatuh tersungkur. Lelaki itu segera menyadari kesalahannya. Ia menolong gadis kecil itu.

“Kamu mau ke mana, Nak?” tanyanya setelah meminta maaf.

“Ke mana orang tuamu, Nak?” tanya dokter itu pula.

Gadis itu hanya menggeleng mendapati pertanyaan yang bertubi-tubi. Karena anak itu tidak segera menjawab pertanyaannya akhirnya dokter itu memeriksa kesehatannya. Ternyata anak itu sudah tak perlu dikhawatirkan lagi kesehatannya. Setelah keadaannya membaik, anak itu pun mau menjawab pertanyaan mereka. Dia sedang menunggu ibunya yang harus pulang untuk memasak makanan untuk dirinya. Sedangkan, ayahnya sedang bekerja. Menarik becak.

Akhirnya lelaki itu kembali meneruskan perbincangan dengan sang dokter. Bocah itu juga masih berada di situ. Di kursi ruang tunggu.

“Harus ada orang yang mendonorkarn ginjalnya Pak. Kita usahakan dulu. Semoga ada stok kita minggu ini,” kata dokter itu lirih.

“Itu pun kalau Bapak setuju ginjal putri Bapak ditransplantasi. Dan bapak tentu harus siap dengan biaya yang tidak sedikit,” lanjutnya lagi.

Tinggalkan Balasan