Di serambi, sebagian makhluk itu masih beterbangan mengerumuni mata lampu. Sebagian telah tergelak di lantai dengan tubuh yang masih hidup. Namun sayapnya tertempel pada bekas rintik hujan, membuatnya tak dapat beterbangan. Aku mencoba mengambilnya dengan perlahan. Sayapnya lebih tipis daripada kertas di belah tujuh, rapuh. Seakan melambangkan kebebasannya sendiri, seperti malam ini.
Aku menempelkannya pada telunjuk jari. Makhluk itu menggetarkan sayapnya beberapa kali. Berusaha mengeringkan harapannya, memulihkan kebebasannya.

“Hei, kawan. Katakanlah kepadaku bagaimana Tuhan menciptakan sebuah kebebasan?”
Sayap mungilnya tak lagi bergetar. Makhluk itu terdiam seakan bingung sendiri dengan pertanyaanku, atau memang tak tahu bahasaku.
Seekor rayap diciptakan dalam sebuah goa yang gelap. Lalu menetas dan langsung bekerja tanpa protes, tanpa lelah bagai uratnya tak lagi ada. Tak mengenal protes dan sesambatan layaknya manusia. Tapi di masa ini mereka mendapatkan amanat baru. Menumbuhkan sebuah harapan dan mencicipi sebuah kebebasan, dalam semalam.
“Ji, ayo kita mulai.”
“Tapi yang lain belum datang.”
