“Seadanya saja, agar lebih cepat selesai.”
Ruang tamu yang empunya hajat tengah dilanda banjir ringan. Terlihat beberapa timba dan bak ada di sana. Sebuah karpet kecil cukup untuk lima orang telah digelar. Dan memang hanya secukup itu orang yang datang. Laron yang ada di tanganku tampaknya telah pulih sepenuhnya. Sayapnya telah kering dan siap menyongsong cahaya. Lebih dari cahaya suram dari lampu teplok yang ada di surau. Dan dia mulai terbang menuju cahaya di tengah ruang tamu.

Sewaktu kami memulai bacaan, laron itu tepat mengelilingi mata lampu. Aku melihatnya seperti tampak kegirangan, lalu tak lama dia mulai lelah. Tak mendapat sebuah pijakan ia akhirnya menginjakkan kakinya pada sang lampu. Panas menjalar dari intinya. Menuju si laron kecil dan membakar tubuhnya. Lampu sedikit berkedip dan melentikkan sedikit api. Keempat sayapnya berhamburan jatuh , diterpa angin yang menyelip dari sela jendela dan pintu.
Aku yang memandangnya dan berdoa semoga dia ditempatkan pada surga. Namun pikiranku sendiri menyangkalnya. “Adakah surga bagi makhluk kecil seperti kami?” tanya si laron. “Mungkin, aku juga tak tahu. Banyak rahasia Tuhan yang disimpan dari semesta.”
Percakapan itu sekilas terpikir dalam imajinasiku.
Tapi di sela itu semua kejadian laron seolah menamparku. Bahwa tak selamanya terang adalah harapan. Bisa saja yang kau anggap terang malah membunuhmu. Kadang gelap malah lebih membuatmu nyaman, aman, tenang, dan menghidupi.
Ah, kejadian itu membuatku menarik ingatan ke belakang. Seolah memoriku ingin mengangkat segala yang telah terpendam sekian lama. Kampung halaman, suasana perdesaan, laron yang dicari untuk bahan santapan. Ah, entah sampai kapan Tuhan ingin aku menjadi rayap pekerja. Terlebih di goa-goa orang lain. Menggerogoti tiap sumber daya yang ada di sana, dan tubuhku yang mulai digerogoti usia. Bagaimana kabar emak di sana? Apakah surau sebelah rumah masih di pakai? “Ah, aku cuma rindu. Itu saja,” desisku pada angin di jalan sembari membawa seember berkat.
