“Saya ingin belajar lebih mendalam tentang agama Islam di Indonesia. Kata ibu saya, harus mondok dan masuk pesantren, Kiai.” lanjutku dengan jujur.
“Oh, ya. Kamu Daud, silakan kamu bimbing Ilham ini mengaji, kalau bisa sekalian bimbing agar dia bisa tahu baca kitab kuning atau kitab gundul itu,” perintah Kiai Ilyas kepada Daud yang berada di sampingku.

“Ya, Kiai,” jawab Daud dengan takzim.
“Silakan, kalian bisa bubar. Jangan lupa Daud, kamu ajari teman sekamarmu ini baca Al-Qur’an yang baik, sebab sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,” Kiai Ilyas mewanti-wanti Daud untuk mengajariku belajar baca Al-Qur’an yang baik.
Pengajian Al-Qur’an baru saja selesai. Santri-santri berhamburan kembali ke bilik masing-masing. Di depan bilik, aku merenung tentang peristiwa yang kualami sedari tadi. Tiba-tiba Daud, teman sekamarku, menepuk pundakku dari belakang.
“Hei, kamu kenapa, Ilham?” tanya Daud padaku seraya merangkul badanku. Ia mengagetkanku.
Daud adalah salah satu tetanggaku di rumah yang dimondokkan oleh bapaknya lima tahun yang lalu ke pondok pesantren ini. Dia satu kamar denganku, dan dialah satu-satunya orang yang paling senior di kamarku. Lebih tepatnya, ia adalah ketua kamar. Aku dititipkan ibuku padanya, karena aku adalah santri baru di pesantren ini dan butuh banyak bimbingan dan adaptasi dengan lingkungan.
“Kamu tidak kerasan, Ilham?” tanya Daud melanjutkan.
“Tidak kok, Kak,” jawabku kikuk.
“Tapi, kenapa wajahmu seperti orang yang kebingungan bagitu tadi?” Daud memeriksa dengan sorot matanya.
“Anu, Kak. Aku tadi hanya heran saja, kenapa semua santri berdiri ketika Kiai Ilyas bubar dari pengajian tadi,” aku mengadu pada Daud dengan nada polos.
“Kamu tahu, takzim di hadapan kiai adalah tradisi pesantren. Di pesantren itu tidak hanya kepandaian dan kepintaran yang bisa diandalkan, tapi juga akhlak yang terpuji, karena nilai seseorang adalah akhlaknya,” jelas Daud padaku di depan bilik.
Suara azan magrib yang menggema menghentikan percakapanku dengan Daud. Senja merambat ke arah barat. Hari telah menjadi gelap. Sudah saatnya aku merangkai kebaikan dalam salat berjamaah magrib bersama Kiai Ilyas dan santri lainnya. Selalu saban waktu.
Aku percaya jika orang tua pasti menginginkan setiap anaknya menjadi orang yang sukses. Bagiku surga ada di mana-mana. Hanya, cara seseorang dalam memperoleh surga itulah yang kerapkali berbeda-beda. Aku sangat yakin jika semua orang berbeda-beda dalam memperoleh kebahagiaanya di dunia.
***
Sudah sembilan tahun aku berada di pesantren ini. Berbagai keanehan itu lenyap dalam pikiranku. Kini, aku tidak lagi menyimpan khawatir dan perasaan takut untuk mengaji kepada Kiai Ilyas. Berkat bimbingan Daud, aku sudah terbiasa mengaji kepada Kiai Ilyas seusai salat subuh.
