Sepotong Surga untuk Ibu

Senang rasanya aku bisa melantunkan bacaan Al-Quran, seakan memberikan kedamaian yang tak terhingga. Aku berjanji pada diriku sendiri, saat liburan nanti aku akan mengaji di hadapan ibuku. Pasti dia akan senang mendengar anaknya bisa mengaji dengan baik. Senyum yang kurindukan dari bibir ranumnya.

Matahari mengumbar sinarnya ke hadapan dunia yang mulai fana. Aku hanya duduk di depan bilik sembari berdiskusi panjang lebar tentang kitab gundul. Sebab, targetku tidak muluk-muluk berada di pesantren ini; aku hanya ingin membahagiakan ibuku dengan pengetahuanku dalam mengaji Al-Quran, menulis tulisan Arab yang baik, dan bisa memahami makna kitab gundul.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Hanya itu ciri khas pesantren yang bisa dipertahankan hingga zaman modern ini. Tradisi tentang dunia literasi, memuliakan kiai, dan berbagai kebiasaan seperti salat berjamaah yang senantiasa dilaksanakan saban waktu,” kata Daud pagi itu.

Suara Daud terhenti ketika terdengar suara lain yang mengagetkan. “Panggilan, saudara Ilham di blok F/11, dikunjungi keluarganya.” Suara itu begitu nyaring terdengar dari posko kunjungan.

Aku terkejut. Sebab, semenjak ayah meninggal, ibu sudah bekerja sebagai pelacur ke luar negeri untuk mencukupi kebutuhanku di pesantren. Ibu tidak mungkin mengunjungi di pesantren yang jauh berada di pelosok desa ini. Paling-paling, ibuku hanya bisa mentransfer uangnya lewat ATM atau sesekali menelpon setiap satu bulan sekali. Aku menduga barangkali paman yang berkunjung. Aku bergegas ke posko kunjungan untuk menemuinya.

“Ilham, kamu harus pulang dulu! Ibumu datang dari luar negeri,” ucap paman menatapku. Aku hanya heran saja. Tidak biasanya ibu pulang tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Hatiku senang bercampur rasa penasaran yang menggelora. Aku pamit kepada pengurus pondok bersama paman ke kantor pesantren.

***

Aku kembali merasakan aneh dengan suasana ini. Orang-orang berlalu lalang di depan rumahku. Air mataku kini mulai menggenang dalam kelopak mata. Aku menganggap suasana ini lebih aneh lagi ketimbang di pesantren. Mereka hanya bisa menatapku dengan tatapan sendu. Tiba-tiba bibiku menghambur memelukku dengan suara tangis yang histeris.

“Ibumu, Ilham…! Ibumu…! ia telah terbujur kaku meninggalkan kita!” seru bibi seraya memelukku.

Aku hanya bisa bungkam, seakan hidup sudah tidak bisa dikendalikan. Aku terus berjalan mendekati jenazah ibuku yang berbaring di atas keranda. Air mataku terus mengucur dari kelopaknya. Kusaksikan orang-orang membacakan tahlil untuk ibuku. Dengan terengah-engah, aku terus melangkah mendekati jenazah ibu.

***

“Tabahkan hatimu, Ilham. Jangan hanya bisa menangis, bacalah Al-Qur’an agar jiwamu tenang dan hatimu tentram,” Kiai Ilyas datang dalam mimpiku malam itu.

“Sebab ketika orang meninggal dunia, maka akan terputus segala amalnya kecuali tiga perkara: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya,“ terngiang dauh Kiai Ilyas saat dulu mengisi pengajian di pesantren.

Semenjak peristiwa itu, selalu kulantunkan bacaan Al-Quran setiap Jumat pagi di depan makam ibu. Dan pada hari itu pula, kulihat raut wajah ibu seakan-akan tersenyum mengembang di angkasa.

Sumber ilustrasi: pngtree.

Tinggalkan Balasan