“Sudah ini.”
Monji secepat kilat menyambar buku catatan itu. Al berusaha menggapainya kembali. Tapi percuma saja, dia akan selalu kalah tinggi dan kuat dengan anak tukang kebun itu. Semua yang ada di sana telah dibaca Monji. Sekejap kemudian dikembalikan catatan itu pada sang pemilik. Buru-buru Al mencari halamannya. Jemarinya cepat melipat lembar demi lembar kertas putih itu. Lalu saat telah ditemukan, dia robek dua halaman itu seketika. Dia genggam menjadi gumpalan dan melemparnya ke sungai. Sekejap kertas itu lebur bersama aliran air, dan hanyut menuju hilir bersama gelombang.

“Eh, kenapa kau buang? Sayang banget.”
“Biar. Mau ditaruh mana mukaku saat bertemu Asya dan melayangkan kata-kata seperti itu.”
“Menurutku itu sudah bagus. Buat saja seperti biasa kau lakukan di pikiranmu.”
“Hah?.”
“Buat seolah kau memang berbicara dengan Asya.”
“Soal apa?” umpannya balik.
“Soal semua yang kau pendam.”
Monji tahu keresahan sahabatnya itu. Beberapa waktu lalu dia melihat karibnya itu menuju makam di pojok kuburan. Monji pernah diberitahu bahwa salah satu wasiat buyutnya bila sedang susah agar meminta petunjuk. Pertama dengan salat malam. Kedua dengan nyekar ke makam tersebut. Dan setelah itu kumpulan kata entah dari mana selesai disusun Al pada sebuah kertas bekas undangan. Entah siap tak siap dia akan menemui Asya dan memberikannya. Tinggal menunggu waktu.
Esok hari Al kebingungan. Kertasnya yang belum sempat disalin lenyap dari depan meja televisi. Seisi rumah sudah diobrak-abrik dan tak ada tanda menemukan hal yang dicarinya.
“Lah, kamu kenapa Le?” ibunya bertanya saat pemuda itu termenung memegangi kepala.
“Ibu tahu kertas yang saya taruh di sini kemarin?”
“Oh itu buat bungkus lauk ke sawah tadi pagi.”
“Terus sekarang ke mana?”
