Sepucuk Surat Al

“Ya sudah dibuang.”

Al hanya tersenyum dengan wajah pasi. Kembali kelapanya dipegangi di kedua sisi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sorenya dia mengawali menuju musala. Wajahnya tampak semakin tak bergairah. Bahkan sampai tak lagi memandang rumah Asya dan jendela pojok atasnya. Meskipun dari balik gorden ada sepasang mata yang memperhatikan. Di sana Al bertemu dengan Pak Sigit, orang yang mengajar ngaji. Pak Sigit bertanya ada apa gerangan. “Memang selalu ada ya pak, cobaan buat orang yang berjuang.”

Pak Sigit tertawa sejadinya ketika menebak apa yang terjadi. Dan tampaknya tebakan itu tak terlalu meleset. Pak Sigit menyarakannya untuk tirakat. Bila memang itu masih belum cukup, cobalah malamnya kau begadang. Bacalah tiap doa yang kau tahu, pintu langit terbuka lebar saat malam. Karena doa tak terlalu terjejal dan para malaikat tak pusing untuk mengurutkannya. Ucap gurunya itu sambil berkelakar.

Tersisa tiga hari hingga Asya berangkat ke perantauan ilmunya. Al yang tak punya cara lain mencoba saran dari Pak Sigit. Tiga hari dia berpuasa, tiga malam pula tak tidur dan hanya berdoa. Di malam terakhir entah mendapat wangsit dari mana, empat lembar curahan hatinya bisa tersusun rabi di atas kertas HVS. Tapi sebelum subuh dia baru ingat. Bagaimana cara dia menyerahkannya. Otaknya kembali meledak, matanya tak kuat menopang kelopaknya. Tangannya yang menggenggam kertas terlepas, jatuh di atas obat nyamuk yang menyala.

Mojin kebetulan ingin meminjam buku di pagi hari. Ibu Al mempersilakan langsung ke kamar. Di ujung hidungnya tercium bau hangus. Cepat-cepat dia mengambil tumpukan kertas yang terbakar dan memadamkannya. Hanya sepucuk tulisan yang dapat diselamatkan. Lalu dilihatnya Al dengan kantung matanya yang hampir menghitam “Dasar bodoh, kau pasti tak tidur untuk ini.”

Sepucuk surat mendarat di bawah pintu kamar Asya pagi itu juga. Di pojok amplopnya tertulis namanya dan sedikit pesan, agar tak membukanya kecuali sudah mendarat di tujuan. Gadis itu menyimpannya dengan baik, seperti rasa penasarannya. Saat pesawat telah mendarat, sebelum taksi jemputannya datang, dia membuka isi surat misterius itu.

“Teruntuk Asya, apa kamu tahu bagaimana cinta ini ada? Itu seperti bunga yang tumbuh di sela retakan gedung beton. Hanya Tuhan yang tahu kapan dan bagaimana benihnya ditebarkan, tumbuh, dan merekah.”

Di pojok kiri bawah ada nama seseorang yang lewat rumahnya tiap sore menuju musala. Yang sekejap akan berhenti dan memandang ke jendelanya. Dan dia akan mengintipnya dari balik gorden dengan senyum merekah.

Selang beberapa hari sebuah surat datang ke rumah Al. Dari perangkonya tak nampak bahwa itu perangko lokal. Al yang murung sejak suratnya hangus dilalap bara obat nyamuk seakan tak punya daya. Mojin sampai lelah untuk menghiburnya. Ibu membawa beberapa cemilan ke kamar bersama surat itu. Al tampak tak percaya dari siapa surat itu berasal. Dibukanya dengan tergesa.

“Terima kasih atas suratmu. Maaf bila lama membalas. Kantor pos lumayan jauh dari asrama. Bolehkah bila berkenan kita berbalas surat lewat email. Kutunggu kembali dikotak masukku. Asya.” Beserta sebuah alamat surel yang tertulis di pojok kiri bawah.

Dia tak mengerti apa maksud surat itu. Sampai dia menatap Mojin dengan wajah yang cukup payah.

“Terima kasih sama bapak, kau berutang sebungkus rokok padanya.”

Sekejap dia lupa bahwa ayah Mojin biasa melewati kamar pujaannya untuk mengambil perkakas kebun di loteng. Suatu kali Al pernah mendengar hal itu darinya. Sukurnya Al tak terkira hingga peluh di pojok matanya yang hampir kering menetes tanpa sadar. Menetes bahagia.

Tinggalkan Balasan