Sepucuk Surat dari Ibu

Pernah suatu ketika, aku terburu-buru khawatir terlambat sekolah. Aku memakai kaus kaki sembarangan, yang terpenting tidak melanggar peraturan sekolah. Tidak sanggup aku membayangkan jika kepala sekolah menghukumku karena tidak memakai kaus kaki. Sebelumnya aku juga menyempatkan diri untuk sarapan. Itu juga penting agar aku tidak kelaparan di kelas dan mengantuk. Aku tidak biasa memakai  make up atau sekadar bercermin membenarkan penampilanku.

Ketika aku tiba di kelas, apa yang terjadi? Semua teman-temanku menertawakanku. Aku menatap mereka bingung, tak paham apa maksud mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Faza jorok tak mandi pagi.” Apa? Mereka bilang aku tak mandi pagi? Aku masih ingat betul tadi pagi sebelum Subuh aku mandi sekalian mencuci perabot dapur.

“Memangnya aku kenapa?” tanyaku heran seraya mencium baju seragamku dan memperhatikan penampilanku.

“Coba kamu ngaca di lemari buku,” Siska, sahabatku, memberikan saran. Aku spontan menuju lemari buku yang ada di samping meja guru.

“Oh, tidak!” aku teriak histeris dibarengi dengan tawa teman-teman sekelas. Ketika aku mendapati dahiku ada garis hitam tebal mirip tompel. Aku menyesali diriku sendiri. Kenapa aku bisa seceroboh itu? Aku baru ingat tadi pagi waktu makan aku kejedot panci yang menggantung di dinding dapur dan lupa membersihkannya. Pengalaman yang sangat konyol.

***

Malam ini begitu hening. Hanya ada suara kodok yang bersahutan di samping rumah. Ibu duduk di kursi seraya menatap ke arah luar melalui jendela. Tak ada percakapan yang keluar dari bibir ibu kecuali suara batuk yang tak kunjung sembuh.

“Teh jahenya diminum, Bu. Supaya batuk ibu cepat sembuh.” Ibu hanya menganggukkan kepala. Padahal yang aku inginkan lebih dari itu; bagaimana sekolah Faza hari ini? Faza ada PR apa tidak? Faza sudah makan apa belum? Atau Faza jangan jadi anak nakal. Sebegitu lamanya aku menunggu, tetap saja ibu tidak bicara. Setelah itu, ibu beranjak dari tempat duduknya menuju kamar. Untuk kesekian kalinya, ibu meninggalkanku sendirian. Namun, ketika pintu kamar ibu hampir tertutup sempurna, ibu mengucapkan satu kalimat yang aku tak tahu maksudnya. “Ibu minta maaf, Nak.”

Sebenarnya apa yang terjadi? Baru kali ini ibu minta maaf setelah sekian lama tidak bicara denganku dan anehnya ibu tidak mengatakannya di depanku. Lagi-lagi aku berusaha mengerti, meski sebenarnya aku sangat tidak mengerti akan sikap ibu. Aku berusaha berprasangka baik pada ibu. Aku mengalihkan pikiranku pada acara pembagian rapor besok di sekolah. Aku harap besok merupakan momen bersejarah. Di mana ibu mulai memberikan perhatiannya padaku.

***

Acara pembagian rapor sudah berlangsung selama empat puluh lima menit. Aku menoleh ke arah jendela untuk kesekian kalinya, berharap ibu menghadiri momen penting ini. Tadi pagi aku sudah bilang sama ibu bahwa hari ini ada pembagian rapor di sekolah. Jika semisal ibu tak bisa hadir karena kondisi tubuhnya yang belum stabil, aku harap ibu menelepon paman untuk mewakilkannya. Tapi sampai sekarang salah satu dari mereka tak ada yang datang.

Tinggalkan Balasan