“Siswa terbaik kelas VI SD Bakti Mulia jatuh pada anak yang bernama Haura Faza Kamila.”
Air mataku tumpah ruah memenuhi pipi kiri dan kanan. Itu bukan air mata kebahagiaan karena aku menjadi siswi terbaik. Tapi air mata kesedihan karena pada saat itu tak ada ibu yang seharusnya menyaksikan. Aku menundukkan kepala pilu.

“Haura, selamat, Nak.” Aku menoleh ke arah suara.
“Paman? Ibu di mana?” Paman tak menjawab.
“Sekarang Faza pulang duluan bareng paman, ya?” Pulang? Sebenarnya apa yang terjadi? Pikiranku mulai tak karuan. Tenggorokanku tercekat, tak bisa berkata-kata.
Sesampainya di rumah, aku melihat banyak orang. Aku berlari sekuat mungkin. Mencari sosok ibu di antara kerumunan orang. Semua orang hanya menatapku iba.
Aku seperti disambar petir ketika mendapati ibu terbujur kaku seraya ditutupi sehelai kain. Sempurna sudah kesedihanku. Setelah ibu memperlakukanku seperti bukan anaknya sendiri, sekarang ibu meninggalkanku untuk selamanya.
“Ibu, sebenarnya apa salah Faza? Kenapa ibu membiarkan Faza sendirian? Faza janji tak akan nakal dan nuntut macam-macam. Asalkan ibu bersama Faza.” Aku mencium wajah ibu untuk yang terakhir kalinya. Kutatap lekat-lekat di setiap raut wajah ibu. Pernah ditinggalkan bapak rupanya tetap tak bisa membuatku tegar. Namun justru membuatku semakin rapuh.
“Sabar, Nak Faza,” bibi mengusap pundakku lembut. Aku tak menoleh sedikit pun. Tanganku masih memeluk ibu dengan erat.
“Ini surat untukmu. Saat ibumu mulai sakit-sakitan, ia menitipkan surat itu pada Bibi.”
Surat? Benarkah surat itu untukku? Mengingat, berbicara saja ibu enggan. Aku buka surat itu pelan. Rasa penasaran mulai berkelebat dalam pikiranku.
“Faza anakku sayang. Mungkin Faza bertanya-tanya atas perlakuan ibu kepada Faza selama ini. Semua yang ibu lakukan sebenarnya demi kebaikan Faza. Dengan kondisi ibu yang sakit-sakitan, ibu sadar tidak bisa membahagiakan Faza untuk selamanya. Ibu hanya ingin Faza menjadi anak yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi apa pun. Faza bisa mewujudkan permintaan ibu kan, Nak?“
