Seratus Tema, Seribu Jalan Kedamaian

Jumat (13/3/2026) sore sambil menunggu waktu berbuka puasa, di Al-Zastrouw Library Serua, Depok, Jawa Barat digelar acara Ngabuburit Buku. Acara diskusi buku sambil nunggu waktu buka ini diikuti belasan peserta dari kalangan mahasiswa, remaja Karang Taruna, dan masyarakat umum.

Yang menarik, narasumber yang dihadirkan dan buku yang didiskusikan tergolong istimewa, apalagi dalam suasana Ramadan. Narasumbernya seorang pastur, tak lain adalah Romo Greg Soetomo SJ. Sementara, buku yang didiskusikan berjudul 100 Tema dan 1000 Jalan Kedamaian. Buku ensiklopedia yang diberi anak judul “Relasi Gereja Katolik dengan Umat Islam Indonesia” ini tak lain adalah karya Romo Greg sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Diskusi yang berlangsung pukul 15.30–18.00 WIB ini juga menghadirkan budayawan Nahdliyyin Ngatawi Al-Zastrouw dan dipandu moderator Sahrul Jud Maulana.

Buku yang secara intensif dikerjakan selama empat tahun ini disusun dalam bentuk ensiklopedis ini terdiri dari dua jilid setebal sekitar 800 halaman. Di dalamnya memuat seratus tema yang menjawab berbagai pertanyaan mengenai hubungan antara Gereja Katolik dan umat Muslim di Indonesia. Namun lebih dari sekadar kumpulan jawaban, buku ini sebenarnya adalah sebuah refleksi panjang tentang bagaimana manusia beriman dapat hidup berdampingan dalam dunia yang penuh perbedaan.

Menurut Romo Greg, buku ini lahir dari kesadaran bahwa hubungan antara umat Katolik dan umat Muslim di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengalaman sejarah panjang hidup bersama. Ia menjelaskan bahwa format ensiklopedia dipilih bukan semata sebagai metode penyusunan pengetahuan, melainkan sebagai cara untuk merespons pertanyaan-pertanyaan nyata yang sering muncul dalam kehidupan sosial umat beragama.

Banyak orang, menurutnya, memiliki rasa ingin tahu tentang keyakinan orang lain, tetapi sering kali pertanyaan tersebut tidak menemukan ruang dialog yang sehat. Melalui buku ini, ia berusaha membuka ruang tersebut.

Bagi Romo Greg, dialog antaragama tidak dimaksudkan untuk mencampuradukkan keyakinan atau melemahkan identitas iman masing-masing. Dialog justru menjadi sarana untuk memahami perbedaan secara lebih dewasa. Dalam pandangannya, kedamaian tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kemampuan manusia untuk menerima kenyataan bahwa Tuhan menghadirkan manusia dalam keragaman pengalaman iman.

Pandangan tersebut kemudian diperkaya oleh refleksi Ngatawi Al-Zastrouw dalam. Menurutnya, buku ini penting dibaca dalam konteks Indonesia, sebuah bangsa yang sejak awal dibangun di atas keberagaman agama, budaya, dan tradisi. Ia menekankan bahwa dalam pengalaman sosial Indonesia, perbedaan tidak selalu dipertentangkan. Sebaliknya, perbedaan sering dimediasi melalui dialog dan praktik sosial yang memungkinkan masyarakat hidup berdampingan secara damai.

Al-Zastrouw menggarisbawahi bahwa dialog dalam kehidupan beragama bukan sekadar wacana intelektual, tetapi sebuah praktik kebudayaan. Dalam masyarakat Indonesia, dialog sering berlangsung secara alami melalui interaksi sehari-hari: melalui tradisi gotong royong, kehidupan bertetangga, maupun berbagai ritual sosial yang mempertemukan komunitas berbeda agama. Dalam ruang-ruang seperti inilah, nilai-nilai kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling nyata.

Refleksi tersebut memperlihatkan bahwa buku ini tidak hanya berbicara tentang hubungan Katolik dan Islam, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Indonesia memahami pluralitas. Dalam kerangka kebangsaan, nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Pancasila yang menempatkan keberagaman sebagai fondasi kehidupan bersama. Prinsip persatuan tidak dimaksudkan untuk menghapus perbedaan, tetapi untuk mengelola perbedaan agar menjadi kekuatan moral bagi bangsa.

Jika dibaca secara lebih mendalam, buku Ensiklopedia 100 Tema ini sesungguhnya menawarkan sebuah cara pandang yang sederhana namun mendasar: bahwa dialog adalah jalan menuju kemanusiaan yang lebih luas. Dalam dunia yang sering dipenuhi prasangka antaragama, buku ini mengingatkan bahwa perjumpaan manusia tidak selalu harus dimulai dari perdebatan teologis, tetapi dari kesediaan untuk saling memahami.

Diskusi di Al-Zastrouw Library memperlihatkan bahwa gagasan dalam buku ini menemukan resonansinya dalam pengalaman sosial Indonesia. Ketika Romo Greg berbicara dari perspektif teologi Katolik dan Al-Zastrouw dari tradisi intelektual Islam, keduanya bertemu dalam satu kesimpulan yang sama: bahwa perbedaan iman tidak harus melahirkan jarak, melainkan dapat menjadi jalan untuk memperkaya pengalaman kemanusiaan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, buku ini menjadi pengingat bahwa kedamaian bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia harus dibangun melalui dialog, saling pengertian, dan penghormatan terhadap keyakinan orang lain. Dengan demikian, seratus tema yang ditawarkan buku ini pada akhirnya membuka lebih dari sekadar seratus jawaban—ia membuka kemungkinan bagi “seribu jalan kedamaian” dalam kehidupan bersama.

Usai diskusi dan berbuka, Romo Greg masih tinggal hingga malam, ditemani dan ngobrol bersama sastrawan Jamal D. Rahman dan Mahwi Air Tawar, Mukhlisin dari jejaring duniasantri, dan sejumlah pegiat sastra dan literasi.

Tinggalkan Balasan