Disereng sedemikian rupa, masyarakat muslim Bali yang berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah melakukan perlawanan. Mereka pun mengusir beberapa tokoh Wahabi karena dianggap meresahkan dan memancing permusuhan. Khawatir terjadi bentrok fisik, Habib Ali Bafaqih yang terkenal sangat tegas turun tangan. Ia menerima tantangan dari salah satu tokoh Wahabi itu untuk berdebat di depan umum. Suatu hari, disaksikan oleh masyarakat luas, adu argumen pun segera dimulai.
Dalam debat, tokoh Wahabi dipersilakan terlebih dahulu membuka pembicaraan, memaparkan ajarannya. Si tokoh Wahabi memulai orasinya dengan suara lantang. Tapi baru berucap, “Rasulullah bersabda: “Man kana…,” Habib Ali Bafaqih berteriak memotong dengan suara lebih lantang, “Berhenti dulu! Berhenti dulu!” Orang-orang kaget, menunggu-nunggu apa yang akan terjadi.

“Sebelum Tuan meneruskan sabda Rasulullah tersebut, saya hendak bertanya, “man” itu huruf apa dan dalam gramatika Arab kedudukannya sebagai apa?”
Lawan debatnya langsung terdiam, kaget memperoleh pertanyaan tak terduga yang tak dikuasainya. Karena terpojok, terpaksa ia mengaku tidak mengetahui jawabannya. Tapi ia ngotot akan memberikan jawaban di luar masalah huruf ‘man’.
Sadar lawannya terpojok, Habib Ali Bafaqih langsung memberikan pukulan telak. “Jangan sekali-kali Tuan berani mengartikan al-Quran dan hadits Nabi jika Tuan sendiri tidak memahami bahasa Arab dengan benar!” Perdebatan usai, dan tokoh Wahabi pun tersingkir. Hingga kini, masyarakat Hindu dan muslim di Loloan tetap hidup rukun dan damai.
