Aku sendiri selalu suka mendengarkan dia berbicara. Mengamati bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh menjelaskan maksudnya dengan suara yang sulit aku pahami. Aku juga senang melihat tangannya bergerak-gerak acak. Berusaha membantunya menyampaikan informasi tertentu. Namun sialnya, aku tetap saja tidak paham.
Agaknya Pak Warsa ini adalah sosok yang memang sudah berteman dengan sengsara. Sehingga kata tersebut tidak lagi berwajah menakutkan. Sebaliknya, ia seolah berubah ramah dan mengajarinya banyak rahasia.

Tidak pernah wajahnya menampilkan rasa sedih melihat lawan bicaranya menertawakannya. Tidak pula satu rona kekecewaan terpancar dari matanya. Dia tetap Pak Warsa yang biasa. Rambutnya yang mulai kehilangan warna, tidak lantas berani menggubah kebaikannya.
Pak Warsa bekerja apa saja. Kadang dia menawarkan tenaganya dengan membantu tetangga kiri-kanannya, dia juga mencari kayu yang hanyut dan tertahan di kaki jembatan. Selain itu, dia seringkali membeli buah-buahan lalu ia jual kembali. Dia pun menawarkan jasa cuci piring di hajatan orang-orang. Pak Warsa selalu bergerak. Dia seolah menyadari bahwa geraklah yang membuatnya hidup.
Pak Warsa adalah Pak Warsa. Tidak ada yang lain. Dia unik dengan segala hal yang melekat padanya. Dia sengaja dikirim Tuhan di tengah-tengah kampungku untuk mengajari kami, yang katanya “normal” ini, banyak sekali misteri kebijaksanaan.
______
