Si Tua “Pembohong”

“Aku melihat bayangan cerah negeri ini dari balik jendela kecil ini. Menatap bunga-bunga bermekaran seolah membawaku ke masa kecilku yang sangat hangat, melihat kupu-kupu terbang di sana berhasil membawa kenanganku pada kebebasan akan ketakutan, dan melihat putihnya awan yang beriringan membuatku merindukan hangatnya kejernihan yang pernah merangkul tanah ini. Aku, kamu, dan semua orang di sini telah kehilangan jiwa. Senyuman telah menguap entah ke mana. Perang ini telah mengubah surga menjadi neraka, mengubah manusia putih sepertimu manjadi sehitam asap tank-tank dingin dan angkuh itu, mengubah anak-anak kita yang manis menjadi sepahit empedu. Aku tidak menyalahkanmu atas kata-katamu, atas umpatan-umpatanmu. Tidak, aku tidak membenci sampah, karena kalaupun sampah dapat memicu bencana, aku akan lebih membenci sumber dari adanya sampah itu! Tapi lihatlah di sana, di luar jendela itu, aku melihat bunga bermekaran, indah, sangat indah.”

Tak terasa, air mata pemuda itu meleleh. Dia menyadari bahwa jiwanya kosong selama ini. Dia kehilangan dirinya yang dulu dan kata-kata orang tua itu telah mengingatkannya kembali. Semenjak itu, pemuda tersebut kembali menemukan jiwa hidupnya. Dia menjadi sosok yang hangat, dan berteman baik dengan orang tua itu. Setiap hari dia mendengarkan cerita tentang bunga dan kupu-kupu. Tentang langit biru dan awan-awan putih. Dan, setiap kali mendengar cerita itu, semakin bersemangat pula dia. Dia ingin segera sembuh dan melihat kupu-kupu dan bunga-bunga itu dengan mata kepalanya sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hingga suatu hari, dia menemukan bahwa lelaki tua tersebut telah meninggal di dipannya. Meninggal dengan tersenyum. Dua bulan setelah meninggalnya kakek tua tersebut, pemuda itu memaksakan diri untuk berpindah ke dipan, di mana orang tua tersebut biasanya duduk dan berbaring. Dia ingin melihat kupu-kupu, bunga-bunga, langit biru, dan awan yang berarak melalui jendela kecil itu.

Namun, alangkah terkejutnya pemuda itu ketika dia melihat jendela terebut. Tak ada bunga, kupu-kupu, maupun langit biru. Hanya ada tembok tinggi kusam yang membisu dingin. Benar-benar berbeda!

Selanjutnya, dia bertanya kepada seorang perawat tentang lelaki tua yang sering bercerita tersebut. Perawat itu menjawab, bahwa lelaki tua itu adalah korban perang. Kedua matanya buta terkena percikan ledakan mesiu!

Tinggalkan Balasan