“Wah, mau mancing ya Bang?” tanyaku, antara bergurau dan bingung.
Temanku itu bingung pula memahami ucapanku, tapi kemudian berlalu tak menanggapinya. Kukira dia bercanda menggunakan kata pajak yang kudengar sebagai “bajak” untuk mengajakku memancing cari ikan. Belakangan baru kuketahui ternyata dia beli ikan di pasar. Pajak maksudnya adalah pasar.

Dan di awal-awal aku berada di pulau itu aku sempat apes. Kala itu aku baru sehari tinggal di rumah kontrakan seorang warga. Perutku sedang lapar-laparnya. Detik demi detik yang berlalu seolah lama sekali. Hingga akhirnya ibu asuhku datang menghampiri seraya melontar tanya.
“Pak Mus siap mangan?” tanyanya. Wah, ngerti bahasa Jawa juga rupanya orang Aceh ini, ucapku dalam hati.
“Siap!” tegas aku menyahut.
