Kita tak bisa memilih, atau menolak, siapa ibu kita. Sang pemilik rahim dari mana kita dilahirkan bisa siapa saja. Ia bisa saja seorang ratu, ibu suri, atau permaisuri. Ia bisa saja seorang roro, nyai, sosialita, pengangguran, pengemis, pemulung, atau bahkan pelacur. Ia bisa saja perempuan berdarah Jawa, Bali, Madura, Minang, Sunda, Dayak, atau yang datang dari negeri-negeri jauh. Kita benar-benar tidak bisa memilih, atau menolak, dari rahim siapa dilahirkan. Andai bisa, tentu saya akan memilih dilahirkan dari rahim seorang bidadari.
Sesungguhnya, ibu kita masih memiliki sedikit kemungkinan, apakah hendak menerima atau menolak untuk melahirkan siapa yang dikandungnya. Tapi, meskipun prosesnya seringkali begitu menyakitkan, toh ibu kita akhirnya menerima kelahiran kita, kehadiran kita, dengan sepenuh cinta. Kita ditimang dengan cintanya. Kita disusui dengan kasih sayangnya.

