Ini berbeda dengan ibu kita. Ibu kita tak pernah menyesali telah melahirkan kita, yang ternyata bukan mereka yang menjadi raja, menjadi penguasa, menjadi pengusaha, dan sebangsanya. Ia hanya tak ingin kita, yang dilahirkannya, menjadi pendurhaka dan pembawa malapetaka. Karena itu, ia akan dengan telaten dan gemati sepanjang waktu memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. Bahkan, banyak ibu yang hanya karena ingin memberikan pendidikan terbaik sampai harus melakukan “hal-hal tak baik” dari kaca mata norma-norma yang ada. Tapi, apapun, itu adalah bentuk pengorbanan dari seorang ibu.
Kita bisa saja menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung karena dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sempurna, yang ideal, yang diidamkan atau diimpikan semua orang. Kita bisa saja menjadi bagian dari orang-orang yang “kurang beruntung” karena terlahir dari rahim seorang ibu yang jauh dari sempurna. Tapi kita memang tidak bisa memilih siapa ibu kita. Tapi apakah kita akan menjadi Malin Kundang atau Uwais Al Qarni, misalnya, itu sepenuhnya pilihan kita. Tak ada ibu yang ingin melahirkan Malin Kundang.

