“Jawab!” bentak penyair yang tanya.
“Jadi saya belajar menulis sajak kepada Ki Joko Purbaya, Pak,” jawabnya dengan penuh gemetar.

Melihat wajah-wajah penyair yang hadir macam singa-singa lapar, ia takut.
“Kata Ki Joko Purbaya, unsur terdalam dalam sebuah puisi adalah bunyi. Bunyi yang dimaksud di sini adalah suara hati yang benar-benar murni keluar dari perasaan, Pak,” lanjutnya.
Semua penyair terdiam. Tiba-tiba mereka semua saling pandang. Beberapa saat, mereka semua menunduk, mendengarkan kata-kata Robert:
“Puisi bukan hanya kata-kata. Ia tercipta karena rasa dan pengolahan jiwa setelah kedewasaan sikap terhadap apapun. Sebelum mengarang puisi, Ki Joko Purbaya bertanya kepadaku perihal pengalaman apa yang paling berkesan dalam hidupku, Pak. Aku menjawab, cinta. Dari itu, beliau menyuruhku mengarang puisi tentang cinta, dan lahirlah “Cinta dan Konspirasi Syahwat Lelaki.” Saya mengarangnya dengan penuh perasaan dan air mata.”
Para penyair yang ada di perjamuan itu masih menunduk. Aneh bin ajaib, mereka yang dengan penuh amarah dan emosi saat awal, ketika Robert berbicara, tiada badai tiada angin tiba-tiba terdiam. Entah, mungkin mereka sadar bahwa selama ini, buku-buku tulisannya hanya sekedar ajang pencarian uang. Sehingga, tak pakai lama menyelesaikan naskahnya tanpa penggalian rasa dan kontemplasi yang dalam.
Tak lama setelah itu, Robert beranjak dari tempatnya menuju kasir warung kopi itu, meninggalkan para penyair yang melingkar di meja. Ingat, mereka menunduk. Sepertinya, mereka meresapi benar kata-kata Robert. Mereka benar-benar mendengarnya.
***
Aku akhiri kisahku ini tepat di ujung kalimat mendengar. Karena sepandai apapun seseorang, kalau tak mau mendengarkan, akan dungu, dan ilmu pengetahuannya akan stagnan pada pemikirannya sendiri.
Aku ingin semua penyair yang ada di kisah itu lebih membesarkan hatinya untuk menerima keadaan, bahwa era sekarang, manusia lebih menyukai hal-hal instan. Manusia era ini tidak suka hal-hal berat. Apalagi tulisan yang berat.
Dan karena aku yang mengarang-ngarang cerita ini, aku ingin tunduk pada idealisku sendiri, yang memaksa pembaca untuk tunduk terhadap pemikiran-pemikiran saya. Aku terlalu egois dalam menulis cerita-ceritaku. Namun meski begitu, aku tidak peduli. Karena menulis adalah caraku mengekspresikan apapun: perasaan, luka, bahagia, maupun suka.
Orang bilang, penulis adalah Tuhan bagi tulisannya sendiri. Sebab itu, aku mengada-ada cerita ini dan kukemas kisahnya dengan tanpa logika dan rasional. Sekarang, aku sedang berada di hatimu, menghipnotismu dengan diksi-diksi yang kutulis di dalam cerita ini.
ilustrasi: lukisan hajriansyah, antara.
