Sisi Lain Akhlak

Oksimoron itu kemudian muncul dalam bentuk: pertama, menoleransi kerapuhan logika berpikir dan tindakan dengan mengatas-namakan maksud baik; kedua, terbudayakannya sikap baik sebagai drama sosial yang sering berkebalikan dengan sikap sebenarnya; ketiga, tidak tercakupnya praktik diskursif sebagai ukuran kesantunan berbahasa.

Bahasa disebut kasar ketika memiliki intonasi tinggi atau memuat umpatan dan kata-kata kotor (meski substansinya berbobot), bukan ketika memuat diksi komparatif-pejoratif (membandingkan untuk merendahkan), atau ketika memuat diksi asosiasif-divisif (menyamakan seseorang dengan kualitas tertentu) seperti misalnya: hitam-putih, pintar-bodoh, saleh-jalang, dan asosiasi lain yang mengandung bias diskriminasi sosial berbasis rasial, intelektual, gender, ataupun moral.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hierarki diskriminatif tersebut dapat disampaikan dengan intonasi santun, dan dapat terjadi baik dalam hubungan antara warga, orang tua-anak, guru-murid, ataupun agamawan-orang awam. Pengertian dan narasi akhlak di arus mainstream cenderung melupakan kausa sosial, bahwa menjadi dihormati atau dihargai adalah hak yang didapat setelah kualitas diri telah tuntas. Akhlak kemudian lebih bermakna hierarki, dibanding kesalingan yang sama ketat.

Repotnya lagi, akhlak yang bermakna demikian, meminjam banyak teks agama sebagai pelindung  sampai orang takut untuk mengevaluasi kemapanan yang selama ini diterima begitu saja sebagai sesuatu yang given. Variabel-variabel sosial seperti budaya patrimonial Asia Tenggara, sisa nalar feodalisme Jawa, dan sisa pengalaman dominasi politik otoriter luput dari pertimbangan, bahwa variable-variabel itu juga telah meninggalkan pengaruh pada pemaknaan akhlak dalam kacamata Islam dan Indonesia.

Tanpa keberanian untuk mengevaluasi praktik akhlak agar sama tajam ke atas dan ke bawah, dan tanpa keberanian untuk menambahkan variabel pertimbangan lain selain agama, maka relasi sosial antargenerasi yang konstruktif sulit terjadi, dan hierarki diskriminatif terus terpelihara. Akhlak dapat menjadi kontrol sosial yang baik, entah bagi yang tua ataupun muda, bila tradisi pengejawantahannya mengarah pada kritisisme pada diri sendiri, dibanding kritisisme terhadap orang lain. Masalahnya adalah, di Indonesia, perlakuan baik dan hormat dari orang lain ditagih meski sikap diri masih cenderung permisif dan mendua.

Tinggalkan Balasan