Orang dapat mengutip ayat ataupun hadis tentang pentingnya kasih sayang dan lemah lembut terhadap yang lebih muda untuk menyanggah hal ini. Tetapi ayat ataupun hadis itu terbatas sebagai kutipan yang baru muncul bila ada protes soal evaluasi praktik akhlak secara keseluruhan.
Dalam ilmu komputer, seorang pengembang software akan selalu membolehkan aplikasinya untuk dibedah dan diuji semaksimal mungkin oleh orang lain agar menemukan ‘bug’, atau ‘error’, yang ia tak sadari. Masalahnya adalah, akhlak sering dipandang sebagai sesuatu yang given, atau turun dari langit begitu saja. Mempertanyakan ataupun menggugat akhlak dapat diartikan sama dengan pembangkangan aturan agama.

Romantisme terhadap akhlak sering mengabaikan bahwa, ayat ataupun hadis adalah bersifat polisemik, yakni memiliki banyak makna: baik itu makna semantik yang erat kaitannya dengan budaya di suatu daerah, ataupun makna diskursif yang ditentukan oleh praktik wacana ayat dan hadis di suatu masyarakat. Sebagaimana fikih yang turun dari olahan teks-teks suci, akhlak juga merupakan produk kebudayaan.
Oleh karena itu, akhlak tidak mutlak soal dosa-pahala ataupun agama. Padangan tersebut cenderung reduktif, mengingat lokus akhlak memiliki posisi yang cukup berperan dalam menentukan prosedur operasional hubungan sosial antargenerasi di Indonesia. Akhlak, oleh karena itu, perlu ditinjau ulang dari segi sosiologi dan kebudayaan untuk membedah oksimoron yang selama ini tak pernah dibahas secara lugas.
Misalnya, seseorang dapat mengharuskan orang lain untuk menghormatinya tanpa meninjau ulang kesantunan permikiran, sikap ataupun bahasanya, semata karena usianya lebih tua. Di Indonesia, pengetian ‘kesantunan’ adalah salah satu ranah yang paling terdampak politik bahasa dari pengalaman periode otoritarian. ‘Kesantunan’ di Indonesia lebih diartikan sebagai praktik berpikir, berbahasa dan bersikap yang memiliki estetika yang ekpslisit, terlepas dari kualitas substansinya seperti apa.
