Tempat dilaksanakanya sorogan berbeda-beda yang sudah ditentukan oleh pengurus. Setiap tempat terdiri dari satu guru yang akan membimbing beberapa santri, di mana santri satu persatu bergantian menghadap sang guru untuk membaca dan menjelaskan isi kitab yang dibaca dan sang guru menyimak bacaan, sehingga santri lain harus mengantre terlebih dahulu sampai dapat giliranya.
Metode sorogan ini biasanya diterapkan di pondok pesantren tradisional yang masih kental dalam mempertahankan ciri khasnya, sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memfokuskan santri untuk mendalami ilmu agama, melalui kitab klasik (kitab kuning). Oleh karena itu, santri diwajibkan bisa membaca, memahami, dan menjelaskan kandungan kitab.

Untuk memahami isi kitab klasik bukan hal yang mudah. Santri harus rajin dan istikamah dalam belajar (mengaji). Begitupun dengan metode yang diterapkan sangat menentukan keberhasilan santri dalam menuntut ilmu.
Menurut hemat penulis, sorogan merupakan salah satu metode yang paling efektif bagi santri untuk bisa membaca dan memahami isi kitab. Metode sorogan ini memiliki banyak manfaat, di antaranya:
Pertama, sang guru mengetahui kemampuan santri dalam memahami isi kitab. Mengetahui kemampuan santri ialah suatu keharusan bagi sang guru di ranah pendidikan demi berjalannya pembelajaran dengan baik. Karena setiap santri memiki kemampuan dan semangat yang berbeda, maka guru harus membuat murid cinta terhadap ilmu. Kalau murid sudah mencintai ilmu, maka murid akan lebih muda dalam memahami.
